Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan

Nama nama pahlawan setelah kemerdekaan – Tak banyak yang tahu siapa saja pahlawan Nasional Indonesia setelah republik Indonesia merdeka. Nah, berikut daftarnya.

Selain dari  Nama pahlawan nasional yang paling dekat dalam telinga kita hanyalah Soekarno dan Mohammad Hatta. Lainnya terkesan tak ada yang dikenal.

Baca Juga:

Nama Pahlawan Bangsa Indonesia Sebelum Sesudah Merdeka

Nama-nama Pahlawan Nasional Beserta Gambarnya

Bersama Soekarno, Bung Hatta jadi proklamator kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan Bung Hatta sampai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sangatlah tidak ringan.

Siapa pahlawan kemerdekaan nasional?

Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan

  1. 1. Wolter Monginsidi, dari Sulawesi, wafat pada tahun 1949.
  2. 2. Overste Slamet Riyadi dari Solo, gugur dalam menumpas RMS Ambon tahun 1950.
  3. 3. Jendral Sudirman, Panglima Besar TNI, wafat pada tanggal 29 Januari 1950 di Magelang.
  4. 4. Laksamana Yosaphat Sudarso, gugur dalam pertempuran di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962 dengan menggunakan kapal “Macan Tutul”.
  5. 5. I Gusti Ngurah Rai Pahlawan dari Bali, gugur pada tanggal 20 November 1946 di desa Marga dekat Tabanan Bali.
  6. 6. Ir. Haji Juanda, wafat pada tahun 1963.
  7. 7. Ir. Sockarno, proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia. Lahir pada tanggal 6 Juni 1901. Wafat pada tanggal 21 Juni 1970.
  8. 8. Drs. Mohammad Hatta, proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret I980.

Siapakah Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan?

1. Wolter Monginsidi, dari Sulawesi

Wolter Monginsisi wafat pada tahun 1949. “Setia Hingga Terakhir dalam Keyakinan”. Catatan tersebut sebagai pesan terakhir Robert Wolter Monginsidi, orang anak muda yang ikhlas mati lebih awal untuk membela kemerdekaan tanah airnya, Indonesia.

Dia salah satu orang yang masuk dalam daftar Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan. Bersanding dengan Soekarno dan Hatta.

Bote, demikian panggilan akrabnya, memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang spiritual. Kitab suci kerap menjadi prinsip hidup anak keempat dari 11 bersaudara pasangan Petrus Monginsidi serta Lina Suawa ini. Cocok pada hari kasih-sayang 14 Februari 1925, Bote dilahirkan di pesisir Dusun Malalayang, Manado, Sulawesi Utara.

Malalayang yaitu dusun kecil yang dikempit oleh lautan serta rimba belantara. Disinilah Bote ditempa sampai selanjutnya jadi orang anak muda pejuang bernyali tinggi serta tidak mengenal berserah. Dari sudut Celebes, ini peristiwa Robert Wolter Monginsidi yang ditembak mati Belanda di Makassar pada umur 24 tahun.

Wolter Monginsidi, pahlawan nasional pejuang kemerdekaan dari wilayah Bantik Minanga (Malalayang). Monginsidi tumbuh dalam budaya Bantik yang demikian kental, dengan rutinitas yang amat fundamental yakni Hinggilr’idang, Hintalr’unang serta Hintakinang.

Falsafah ini memiliki arti berlaku kasih pada sama-sama bagian keluarga, pada sama-sama masih terlilit dalam populasi suku Bantik, serta terdapat sifat pemurah hati pada siapa saja lepas dari suku ataupun ikatan keluarga.

Falsafah itu yang membakar semangat Monginsidi buat melawan penjajahan. Dengan keberanian serta kecerdasan yang dipunyai Monginsidi, beliau dipercayai buat pimpin perlawanan menentang Belanda serta jadi figur yang dihormati.

Pada suatu kongres pada tahun 1946, dibentuklah LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi) dengan Sekjen Wolter Monginsidi sebagai ketuanya.

Di tanggal 28 Februari 1947 Monginsidi diamankan tentara Belanda, akan tetapi sukses larikan diri bersama Abdullah Hadade, HM Yosep serta Lewang Daeng Matari selesai nyaris delapan bulan mengeram di tahanan.

Sepuluh hari lalu Monginsidi kembali ketangkap serta kesempatan ini Belanda memvonisnya dengan hukuman mati.

Perjuangan Monginsidi tidak stop di sana, tidak sanggup bertarung secara fisik dalam perlawanan, Monginsidi mengemukakan semangat perjuangan lewat tulisan-tulisannya.

Berikut beberapa tulisan Wolter Monginsisi yang menimbulkan ide sampai sampai sekarang.

“Jangan berhenti mengumpulkan pengetahuan agar kepercayaan pada diri sendiri tetap ada dan juga dengan kepercayaan teguh pada Tuhan, janganlah tinggalkan kasih Tuhan mengatasi segala-galanya.”

“Bahwa sedari kecil harus tahu berterima kasih, tahu berdiri sendiri.. Belajarlah melipat kepahitan! Belajar mulai dari 6 tahun dan jadilah contoh mulai kecil sedia berkorban untuk orang lain.”

“Berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Dalam Alkitab yang dipegangnya saat hukuman mati, terdapat tulisan “Setia Hingga Akhir di Dalam Keyakinan”. Monginsidi meninggal dengan berani di hadapan regu tembak pada hari eksekusi tanggal 5 September 1949.

Riset dan analisa oleh Somya Samita

PENDIDIKAN Wolter Monginsidi

  • Hollands Inlandsche School (HIS)
  • Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
  • Sekolah Pertanian Jepang di Tomohon
  • Sekolah Guru Bahasa Jepang.

KARIR Wolter Monginsidi

  • Guru bahasa Jepang di Malalayang Liwutung serta Luwuk Banggai

PENGHARGAAN Wolter Monginsidi

  • Bintang Gerilya (tahun 1958),
  • Bintang Maha Putera Kelas III (tahun 1960),
  • Diputuskannya sebagai Pahlawan Nasional (1973)

2. Overste Slamet Riyadi dari Solo

Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan selanjutnya adalah Overste Slamet Riyadi. Dia gugur dalam menumpas RMS Ambon tahun 1950. Bernama lengkap Brigadir Jenderal (Anumerta) TNI Ignatius Slamet Rijadi.

Ignatius Slamet Riyadi terlahir di Surakarta, Jawa tengah, 26 Juli 1927. Wafat di Ambon, Maluku, 4 November 1950 pada usia 23 tahun. Dia adalah seorang tentara nasional Indonesia.

Rijadi terlahir di Surakarta, Jawa tengah, putra dari seseorang tentara serta penjual buah. “Dijual” oleh pamannya serta sempat ganti nama saat waktu balita. Kepercayaan orang Solo, ini agar bisa membuat sembuh penyakit, Rijadi.

Hingga akhirnya dia bisa tumbuh besar dalam rumah orangtuanya serta belajar dalam sekolah punya Belanda.

Selesai Jepang menempati Hindia Belanda, Rijadi tempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikendalikan oleh Jepang serta bekerja buat mereka. Setelah lulus, dia tinggalkan tentara Jepang saat akhir Perang Dunia II serta kobarkan perlawanan.

Selesai Indonesia merdeka di tanggal 17 Agustus 1945, Rijadi pimpin tentara Indonesia di Surakarta pada waktu perang kemerdekaan menantang Belanda yang mau kembali menjajah Indonesia.

Mulai dengan kampanye gerilya, pada 1947 dia berperang dengan hebat menantang Belanda di Ambarawa serta Semarang, bertanggungjawab atas Resimen 26.

Waktu Invasi Militer I, Belanda ambil alih kota namun sukses diperebut kembali oleh Rijadi, kemudian mulai memperlancarkan gempuran ke Jawa Barat.

Di tahun 1950, selesai selesainya revolusi, Rijadi dikirimkan ke Maluku buat melawan Republik Maluku Selatan.

Selesai operasi perlawanan waktu sekian bulan serta mengembara melalui Pulau Ambon, Rijadi tumbang ketembak saat operasi selesai.

Sejak meninggalnya, Rijadi sudah terima banyak penghormatan. Sebuah jalan khusus di Surakarta diberi nama menurut namanya, begitupun dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi.

Disamping itu, Rijadi pun dianugerahkan beberapa tandanya kehormatan secara anumerta di tahun 1961, serta ditentukan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia di tanggal 9 November 2007.

3. Jendral Sudirman, Panglima Besar TNI

Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan berikutnya adalah Jendral Sudirman. Dia wafat pada tanggal 29 Januari 1950 di Magelang. Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman terlahir di Purbalingga, 24 Januari 1916 – wafat di Magelang, 29 Januari 1950 di usia 34 tahun.

Dia adalah seseorang perwira tinggi Indonesia semasa Revolusi Nasional Indonesia. Sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, dia yaitu figur yang disegani di Indonesia. Lahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diambil oleh pamannya yang seseorang priyayi.

Sesudah keluarganya berpindah ke Cilacap di tahun 1916, Soedirman tumbuh jadi seseorang murid rajin; dia begitu aktif dalam aktivitas ekstrakurikuler, tergolong ikuti program kepanduan yang digerakkan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai memberikan potensinya dalam pimpin dan berorganisasi, dan disegani oleh warga sebab ketaatannya di Islam.

Sesudah stop kuliah keguruan, di 1936 dia mulai bekerja sebagai seseorang guru, selanjutnya jadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; dia pula aktif dalam aktivitas Muhammadiyah yang lain dan jadi pimpinan Grup Pemuda Muhammadiyah di tahun 1937.

Sesudah Jepang menempati Hindia Belanda di 1942, Soedirman terus mendidik. Di tahun 1944, dia masuk dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang didukung Jepang, memegang sebagai komandan gagalion di Banyumas.

Sepanjang memegang, Soedirman bersama partnernya sama-sama prajurit lakukan perlawanan, hingga selanjutnya disingkirkan ke Bogor.

Sesudah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya di tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman larikan diri dari pusat penahanan, setelah itu berangkat ke Jakarta untuk bersua dengan Presiden Soekarno.

Dia ditugaskan untuk memperhatikan proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dikerjakannya sesudah membangun satuan lokal Tubuh Keamanan Rakyat.

Pasukannya lalu jadikan sisi dari Satuan V di 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggungjawab atas satuan itu.

Di tanggal 12 November 1945, dalam suatu penentuan untuk tentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman dipilih jadi panglima besar, dan Oerip, yang sudah aktif di militer sebelumnya Soedirman lahir, jadi kepala staf.

Sambil menanti pengangkatan, Soedirman menyuruh gempuran kepada pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa.

Pertarungan ini dan penarikan diri tentara Inggris sebabkan lebih kuatnya bantuan rakyat kepada Soedirman, dan dia pada akhirnya diangkat sebagai panglima besar di tanggal 18 Desember.

Sepanjang 3 tahun selanjutnya, Soedirman jadi saksi kegagalannya tawar-menawar dengan tentara penjajah Belanda yang pengin kembali menjajah Indonesia, yang pertama yaitu Kesepakatan Linggarjati – yang ikut diatur oleh Soedirman – selanjutnya Kesepakatan Renville yang sebabkan Indonesia harus kembalikan tempat yang diambilnya dalam Invasi Militer I terhadap Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia.

Dia pula hadapi perlawanan dari dalam, tergolong usaha pengambilalihan di 1948. Dia setelah itu mempersalahkan momen-peristiwa itu sebagai yang memicu penyakit tuberkulosis-nya; sebab infeksi itu, paru-paru kanannya dikempeskan di bulan November 1948.

Di tanggal 19 Desember 1948, beberapa waktu sesudah Soedirman keluar rumah sakit, Belanda lancarkan Invasi Militer II untuk menempati Yogyakarta.

Di waktu pimpinan-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, dan serangkaian kecil tentara dan dokter pribadinya, lakukan perjalanan mengarah selatan dan mulai perlawanan gerilya sepanjang 7 bulan.

Mulanya mereka dituruti oleh pasukan Belanda, tapi Soedirman dan pasukannya sukses kabur dan membangun basis sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu.

Dari tempat ini, dia dapat mengomandoi aktivitas militer di Pulau Jawa, tergolong Gempuran Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang diketuai oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Sewaktu Belanda mulai menarik diri, Soedirman disebut kembali pada Yogyakarta di bulan Juli 1949. Meskipun pengin terus meneruskan perlawanan kepada pasukan Belanda, dia tidak boleh oleh Presiden Soekarno.

Penyakit TBC yang dideritanya kambuh; dia pensiun dan berpindah ke Magelang. Soedirman meninggal dunia lebih kurang 1bulan sesudah Belanda mengaku kemerdekaan Indonesia. Dia disemayamkan di Taman Kuburan Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Kematian Soedirman jadi duka buat seluruhnya rakyat Indonesia. Bendera 1/2 tiang dikibarkan dan beberapa ribu orang kumpul untuk melihat acara upacara penguburan.

Soedirman terus disegani oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditentukan sebagai media peningkatan esprit de corps buat tentara Indonesia, dan jurusan gerilya sejauh 100-kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus dituruti oleh taruna Indonesia sebelumnya lulus dari Sekolah tinggi Militer.

Soedirman ditayangkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya didokumentasikan jadi nama beberapa jalan, kampus, museum, dan monumen. Di tanggal 10 Desember 1964, dia ditentukan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

4. Laksamana Yosaphat Sudarso

Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan lainnya adalah Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso. Dia terlahir di Salatiga, Jawa tengah, 24 November 1925 – mati di Laut Aru, 15 Januari 1962 di usia 36 tahun) ialah seorang pahlawan nasional Indonesia.

Dia ugur dalam pertempuran di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962 dengan menggunakan kapal “Macan Tutul” dalam kejadian pertarungan Laut Aru sesudah ditembak oleh kapal patroli Hr. Ms. Eversten punya armada Belanda semasa kampanye Caraora.

Namanya saat ini didokumentasikan jadi nama KRI dan pulau.

Periode Kecil Sampai Remaja Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso

Pemuda yang memiliki perawakan kecil ini namanya Yosaphat Sudarso. Dia lahir di 24 November 1925 di Salatiga, Jawa tengah.

Dia sebagai putra dari pasangan ibu Mariyam dan bapak Sukarno Darmoprawiro agen polisi yang tinggal di kampung Sidorejo Lor. Yos Sudarso tertera jadi siswa kebanggaan gurunnya di mana dia bersekolah.

Otaknya cerdik, penampilannya tenang dan penuh santun sopan. Pertama sekali dia masuk sekolah di Particuliere HIS Salatiga, yang sukses diakhirinya di 1940 dan memperoleh prestasi juara pertama.

Setamat dari HIS orang tuanya sesungguhnya menghendaki anaknya jadi seorang guru. Akan tetapi kemauan orang tuanya tak terpenuhi. Selanjutnya dia dimasukkan pada MULO (SMP) di Semarang.

Pengajarannya di SMP Semarang cuma berjalan sepanjang 5 bulan, karena kehadiran tentara Jepang. Dari SMP Semarang dia berpindah ke Salatiga. Dia daftarkan diri di Sekolah Menengah Pertama Negeri dan tuntas di 1943.

Ternyata ketertarikannya semakin banyak tercurah di area maritime. Di tahun itu pula, dia masuk Sekolah Pelayaram Tinggi (SPT) sisi dek di Semarang. Di SPT ini cuma 1 tahun saja.

Dia lulus dengan angka terhebat di 1944, dan dia diperbantukan jadi mualim di kapal Gyo Osamu Butai.

Dedikasi dan Perjuangan Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan dan dibuatnya Tubuh Keamanan Rakyat (BKR) Laut di Semarang, Yos Sudarso lekas tergabung didalamnya. Keadaan udah berganti, beberapa pemuda repot kerjakan persaingan perebutan kekuasaan.

Dalam persaingan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang, dia bersama anggota BKR Laut Semarang yang lain sukses menduduki komplek SPT di Karangtempel dan Purwodinatan,dan sejumlah gedung di komplek dermaga Semarang.

Kelanjutan ketimbang persaingan perebutan kekuasaan itu, pecah Pertarungan Lima Hari di Semarang di 14-19 Oktober 1945. BKR Laut Semarang bekerja di front Jalan Bojong dan Komplek dermaga.

Setelah keadaan berhenti, Yos bersama beberapa temannya mengalihkan pusat aktivitasnya dari Semarang ke Tegal. Di Tegal dia melakukan pekerjaan dan latihan-latihan. Yang paling dia sukai ialah banyak tugas yang memiliki sifat halangan dan avonturisme.

Dia memaksain diri buat turut pada sebuah ekspedisi laut ke Indonesia sisi timur dan Maluku dan Yos dipercayai jadi salah seseorang yang pimpinannya. Maksud ekspedisi adalah buat mempertaruhkan semangat proklamasi 17 Agustus di kepulauan Maluku.

Ekspedisi pergi dari dermaga Tegal di 31 Maret 1946 dengan dilihat oleh Staff Pimpinan ALRI pangkalan Tegal. Mereka memakai 2 biji kapal kayu tua, begitu juga mesinnya.

Yang pertama namanya kapal Semeru di bawah instruksi Moelyadi melaut di muka diikuti kapal ke-2  namanya Sindoro. Sindoro di bawah komandan Ibrahim Saleh dan Yos Sudarso jadi perwira satu.

  • Menumpas Perlawanan Dalam Negeri

Profesi lapangan dihadapi Yos Sudarso kembali di saat menumpas perlawanan Andi Azis di Makassar. Dalam operasi yang dilancarkan kan oleh pemerintahan berikut nama Pergerakan Operasi Militer III (GOM III), ALRI bekerja kerjakan blokade laut di perairan Makassar, mengusung pasukan Angkatan Darat, dan kerjakan bombardemen dari laut pada arah lawan di darat.

Buat melakukan banyak tugas itu Angkatan Laut menghimpun beberapa type kapal yang dipunyainya, seperti kapal KRI Hang Tuah, KRI Banteng, LCT (Landing Craft Transport) dan beberapa kapal angkut, antara lain waikelo dan Bontekol.

Letnan Yos Sudarso bekerja bertindak sebagai perwira di KRI Banteng. Kapal ini memberikan pelindungan pendaratan di Gagalyon worang di Jeneponto. Pasukan Worang ada di kapal angkut waikelo dan Bontekol.

5. I Gusti Ngurah Rai Pahlawan dari Bali

Nama Nama Pahlawan Setelah Kemerdekaan selanjutnya adalah Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai. Gugur pada tanggal 20 November 1946 di desa Marga dekat Tabanan Bali.

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai, Terlahir di Dusun Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 – mati di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia, 20 November 1946 di usia 29 tahun) merupakan seseorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Kabupaten Badung, Bali.

Ngurah Rai punyai pasukan yang namanya pasukan “Ciung Wanara” yang mengerjakan perlawanan paling akhir yang dikenali berikut nama Puputan Margarana.

(Puputan, dengan bahasa bali, mempunyai arti “berusaha keras”, sedang Margarana mempunyai arti “Perlawanan di Marga”; Marga merupakan suatu dusun ibukota kecamatan di penjuru Kabupaten Tabanan, Bali) Pada tempat puputan itu lalu dibangun Taman Idola Bangsa Margarana.

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Tempat Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan.

Terperinci perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW bisa dibaca dari beberapa buku, seperti “Bergerilya Bersama Ngurah Rai” (Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seseorang staff MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraup “Anugrah Persuratkabaran Harkitnas 1993”,

buku “Beberapa orang di Kurang lebih Pak Rai: Narasi Banyak Kawan akrab Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai” (Denpasar: Upada Sastra, 1995), atau buku “Puputan Margarana Tanggal 20 November 1946” yang diatur oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

6. Ir. Haji Juanda, wafat pada tahun 1963

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai lainnya adalah Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja. Juanda Kartawijaya, Sunda: terlahir di Tasikmalaya, Hindia Belanda, 14 Januari 1911 – mati di Jakarta, 7 November 1963 di usia 52 tahun.

Dia adalah Pertama Menteri Indonesia kesepuluh sekalian yang paling akhir. Dia memegang dari 9 April 1957 sampai 9 Juli 1959. Seterusnya dia memegang sebagai Menteri Keuangan dalam Cabinet Kerja I.

Sumbangannya yang paling besar dalam waktu posisinya yaitu Maklumat Djuanda tahun 1957 yang menjelaskan kalau laut Indonesia yaitu termaksud laut seputar, antara dan di kepulauan Indonesia jadi satu kesatuan daerah NKRI atau diketahui dengan istilah sebagai negara kepulauan dalam pakta hukum laut Pakta Asosiasi Bangsa-Bangsa terkait Hukum Laut (UNCLOS).

Namanya didokumentasikan sebagai nama Bandar Udara di Surabaya, Jawa Timur ialah Bandar Udara Internasional Juanda atas jasanya dalam mengusahakan pembangunan bandara itu maka dari itu bisa terwujud.

Tidak hanya itu pun didokumentasikan buat nama rimba raya di Bandung ialah Taman Rimba Raya Ir. H. Djuanda, dalam taman ini ada Museum dan Monumen Ir. H. Djuanda.

Dan namanya juga didokumentasikan sebagai nama jalan di Jakarta ialah JL. Ir. Juanda di bilangan Jakarta Pusat, dan nama satu diantaranya Stasiun Kereta Api di Indonesia, ialah Stasiun Juanda.

Djuanda meninggal dunia di Jakarta 7 November 1963 karena penyakit serangan jantung dan dikebumikan di TMP Kalibata, Jakarta.

Menurut Surat Ketetapan Presiden RI No.244/1963 Ir. H. Djuanda Kartawidjaja diangkat sebagai profil nasional/pahlawan kemerdekaan nasional.

Di tanggal 19 Desember 2016, atas layanan jasanya, Pemerintahan Republik Indonesia, merekam Djoeanda di pecahan uang kertas rupiah anyar NKRI, pecahan Rp50.000.

7. Ir. Soekarno, proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai yang paling terkenal adalah Ir Soekarno. Dia Lahir pada tanggal 6 Juni 1901. Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno.

Nama lahir: Koesno Sosrodihardjo) (terlahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – mati di Jakarta, 21 Juni 1970 di usia 69 tahun).

Dia adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang memegang di masa 1945-1967. Dia seseorang profil perjuangan yang memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Dia yaitu Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi di tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno yaitu yang pertamanya kali mencetuskan rencana berkenaan Pancasila jadi dasar negara Indonesia dan dia sendiri yang memberikan nama.

Soekarno tanda tangani Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang polemis, yang didalamnya —berdasarkan vs yang dikeluarkan Tempat Besar Angkatan Darat— memberikan tugas Letnan Jenderal Soeharto buat menyelamatkan dan mengawasi keamanan negara dan instansi kepresidenan.

Supersemar jadi dasar Letnan Jenderal Soeharto buat membuyarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen.

Sesudah pertanggungjawabannya tertolak Majelis Pembicaraan Rakyat Sementara (MPRS) di sidang umum ke 4 tahun 1967, Soekarno distop dari posisinya jadi presiden di Sidang Spesial MPRS di tahun yang serupa dan Soeharto menggantinya jadi petinggi Presiden Republik Indonesia.

8. Drs. Mohammad Hatta proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai yang tak kalah tenarnya adalah Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta.

Tokoh yang popular sebagai Bung Hatta ini lahir berikut nama Mohammad Athar di Fort de Kock, Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – mati di Jakarta, 14 Maret 1980 pada usia 77 tahun

Dia adalah seorang negarawan serta ekonom Indonesia yang memegang sebagai Wakil Presiden Indonesia pertama.

Dia bersama Soekarno mainkan manfaat sentra dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda sekalian memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945.

Dia pernah memegang sebagai Pertama Menteri dalam Cabinet Hatta I, Hatta II, serta RIS. Pada 1956, dia mundur dari kedudukan wapres lantaran berbeda dengan Presiden Soekarno.

Hatta dikenali dapat komitmennya pada demokrasi. Dia keluarkan Amanat X sebagai tonggak awalnya demokrasi Indonesia. Di bagian ekonomi, penilaian serta sumbangsihnya kepada perubahan koperasi membikin dia disebut sebagai Bapak Koperasi.

Hatta mati pada 1980 serta mayatnya dikebumikan di Tanah Kusir, Jakarta. Pemerintahan Indonesia tinggalkannya sebagai salah seseorang Pahlawan Nasional Indonesia di tanggal 23 Oktober 1986 lewat Keppres nomor 081/TK/1986.

Namanya bersanding dengan Soekarno sebagai Dwi-Tunggal serta diberikan pada Bandar Udara Soekarno-Hatta. Di Belanda, namanya didokumentasikan sebagai nama jalan di lokasi perumahan Zuiderpolder, Haarlem.

Pahlawan Nasional Wanita Indonesia

  1. 1. R.A Kartini. Foto: mug-app.com.
  2. 2. Cut Meutia. Foto: geografi.org.
  3. 3. Fatmawati Soekarno. Foto: pedoman Bengkulu.com.
  4. 4. Cut Nyak Dhien. Foto: serbasejarah.wordpress.com.
  5. 5. Dewi Sartika. Foto: wikipedia.org.
  6. 6. Martha Christina Tiahahu. Foto: sabigaju.com.
  7. 7. Nyi Ageng Serang.
  8. 8. Dewi Sartika.
Default image
Masmedia
https://www.youtube.com/user/addhymanyipi
Articles: 728

Leave a Reply