Peran Tionghoa dalam Dunia Percetakan dan Penerbitan Awal di Minangkabau

0
19
Peran Tionghoa dalam Dunia Percetakan dan Penerbitan Awal di Minangkabau
Peran Tionghoa dalam Dunia Percetakan dan Penerbitan Awal di Minangkabau

Peran Tionghoa dalam Dunia Percetakan dan Penerbitan Awal di Minangkabau

Sumbangsih orang Tionghoa di ranah Minang dalam mengembangkan persuratkabaran juga tidak kalah pentingnya dibandingkan sumbangan bangsa Indo-Eropa maupun Melayu sendiri.

Kita sebut saja seorang pengusaha bernama Lie Bian Goat yang dikenal sebagai perintis awal dalam pemiagaan persuratkabaran ini di kalangan orang Tionghoa kota Padang.

Sebagai pengusaha, ia menerbitkan surat kabar Pertja Barat yang muncul pertama kali J uni 1894.

Informasi ini agak bertelingkahan dengan sumber dari Adinegoro (1951) yang menyebutkan Pertja Barat terbit tahun 1892.

Usaha Lie Bian Goat ini kemudian dibantu oleh seorang editor yang handal pada masa itu, yakni Dja Endar Moeda, yang kemudian menjadi editor dan penerbit bagi beberapa surat kabar lainnya.

Setelah Dja Endar Moeda meninggal, posisi itu digantikan oleh adiknya Dja Endar Bongsoe.

Seorang lagi tokoh pers Tionghoa di kota Padang adalah Tuan Lim Soen Hian, yang memimpin surat kabar Tjaja Soematera, terbit pertama kali tahun 1897-1927.

Di halaman depan kepala surat kabar ini tertulis slogan yang berbunyi: “Soerat Chabar Melajoe dari kaoem jang berhaloean kemadjoean; Setialah boemi poetra bernaoeng dibawah bendera Belanda Ma’moerlah tanah Hindia jakinlah menoentoet kemadjoean”.

Selanjutnya di halaman pertama surat kabar ini dicantumkan pula keterangan waktu terbitnya yakni “Keloar di Padang setiap Selasa, Kemis, dan Saptoe, ketjuali hari besar.

Terbit 3 kali seminggu: Administratie: Winkel Maatschappij v.h. P. Béumer & Co. Padang”.

Dalam perkembangannya kemudian, Iiaja Soematera dicetak oleh Soematera Bode di bawah pimpinan Sampono Radjo.

Mengenai tokoh yang disebutkan terakhirini,Adinegoro memberi catatan khusus tentang prestasi yang berhasil dicapainya.

Sampono Radjo memulai karirnya sebagai letter zetter (tukang susun huruf) kemudian menjadi hoofdredacteur (kepala redaksi) di surat kabar Sumatera Bode.

Tahun 1935 ia mendapat anugerah bintang dari pemerintah Belanda sebagai satu-satunya wartawan bumi putera yang pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda (Adinegoro, 1951:81).

Percetakan yang dikelola oleh pengusaha Tionghoa lainnya juga dapat kita temukan terutama di kota Padang dan Bukittinggi.

Surat kabar Bintang Tionghoa (1910) dan Sri Soematera (1914) keduanya diterbitkan oleh Tiong Ho Ien Soe Kiok Press.

Soematera Bode (1914-1940) diterbitkan oleh Sumatera Bode (sekarang Sungai Bong). Percetakan Tiong Hoa Soe di Padang, Merapi di Fort de Kock, Perserikatan Tionghoa Boemi Poetera yang menerbitkan surat kabar Radio (1923-1935), ikut menambah daftar mi.

Kehadiran pengusaha Tionghoa pada masa lalu dapat dianggap sebagai penyemangat sekaligus pesaing bagi pengusaha pribumi Minangkabau yang kemudian mengikuti jejak Lie Bien Goat dalam bidang penenbitan surat kabar pada masa itu.

Salah satu percetakan milik Tionghoa yang masih hidup hingga saat ini adalah Percetakan Merapi di Bukittinggi.

Namun sejak tahun 1997 Merapi lebih fokus pada usaha percetakan faktur dan nota kantor.

Bahkan Sejak tahun 1950 mereka sudah berhenti menerbitkan dan mencetak buku buku kaba Minangkabau dan buku pelajaran sekolah sebagaimana yang dulu dilakukan oleh pendiri percetakan ini.

Kondisi ini sebagai konsekuensi dari perubahan zaman serta demi kepentingan ekonomi perusahaan agar tetap bertahan hidup.

Hal yang sama juga terjadi pada percetakan Sungai Bong dan Gazaira di kota Padang, NV Nusantara (sekarang Grafika Percetakan Daerah) di Bukittinggi.

Foto di bawah ini merupakan gambar penerbitan Merapi yang masih bertahan hingga saat ini. Percetakan ini dari awal berdiri hingga saat ini terletak di wilayah kampung Cina di Bukittinggi. Pendirinya adalah seorang Tionghoa dari marga Tjoa.

Percetakan ini sekarang dijalankan oleh anak cucu pendirinya yakni Tuan Rudi Wahyudi generasi keempat dari pendiri pertama percetakan ini (foto 1).

Kondisi percetakan yang dikelola oleh pengusaha Tionghoa ini agak berbeda dengan usaha penerbitan yang dikelola oleh pribumi.

Pengusaha Tionghoa dan Eropa sangat pandai mengelola dan menggaet para pemasang iklan untuk memajukan usaha penerbitan mereka.

Kita ambil contoh surat kabar Warta Hindia (milik pengusaha Tionghoa); surat kabar ini terdiri atas delapan halaman, tetapi hanya dua halaman disediakan untuk berita dan artikel. Sisanya sebagian besar diisi dengan iklan.

Tujuan mereka menerbitkan surat kabar bukan untuk berpolitik atau menyuarakan kepentingan kelompok, kampung halaman, etnis, partai, dan lembaga tertentu, sebagaimana yang sering kita temukan dalam surat kabar milik pribumi dalam menjalankan penerbitan dan percetakan pada masa itu.

Namun, kebangkrutan akibat tunggakan pelanggan juga dialami oleh beberapa pengusaha penerbitan surat kabar milik Tionghoa.

Salah satu contoh adalah surat kabar Sri Soematra yang hanya hidup setahun karena Pangkrut. (*)

Seri : Peran Tionghoa dalam Dunia Percetakan dan Penerbitan Awal di Minangkabau.

Sumber :

1. wawancara di Bukittinggi dan Padang, April 2009
2. Buku Kajian Lintas Media Kelisanan dan Keberaksaraan dalam surat kabar tertiban awal di Minangkabau (1859-1940-an)
Penulis : Sastri Sunarti
Penertib: KPG /Kepustakaan Populer Gramedia, Oktober 2013

Tinggalkan Balasan