Pendidikan Pintu Gerbang Revolusi Mental

0
65
Pendidikan Sebagai Pintu Gerbang Revolusi Mental
Unsplash/javier trueba

Pendidikan Pintu Gerbang Revolusi Mental.

Kemunculan era reformasi yang ditandai dengan tumbangnya rezim orde baru di tahun 1998 dianggap sebagai salah satu tonggak perubahan dan perombakan besar di Indonesia.

Namun sejatinya, perombakan dan perubahan besar itu barulah sekadar perombakan yang sifatnya permukaan atau kulit saja, belum sampai pada subtansial.

Perombakan yang terjadi dalam reformasi baru sebatas menyentuh institusional atau kelembagaan belum menyentuh mindset, paradigma, atau mentalitet.

Seyogyanya sebuah perombakan akan bermakna
dan berkesinambungan menjadi pembangunan bangsa (nation building) jika berhasil menyentuh mental manusianya.

Perombakan yang hanya menyentuh institusional tidak akan bermakna apa-apa hanya akan bersifat sementara dan situasional saja.

Perombakan total adalah merombak mental manusia yang menjalankan institusi. Perombakan total yang substantial dan hakiki adalah merombak manusia;

Mental dan sifat manusianya yang menjalankan sistem. Perubahan sistem tanpa perubahan mental adalah omong kosong.

Contoh yang sederhana, misalnya dalam mengikis dan memangkas perilaku korupsi, manipulasi, anarkis, pelecehan hukum, oportunis, intoleransi, ketidakadilan.

Dan tindakan-tindakan busuk lainnya tak cukup dengan perbaikan lembaga peradilan, perangkat hukum, penegakan hukum.

Pembentukan lembaga anti korupsi dan manipulasi, namun harus disertai dengan perombakan mental manusia-manusianya.

Reformasi yang hanya menyentuh faktor institusional atau kelembagaan tidak akan mampu mengantarkan Indonesia menuju era kegemilangan.

Reformasi harus diikuti dengan tindakan-tindakan korektif dengan melakukan revolusi mental yang berorientasi pada perubahan perilaku, sikap dan olah pikir para individu manusianya.

Istilah “revolusi” tidaklah bombastis. Istilah revolusi mengacu pada perombakan yang cepat, radikal dan mendasar.

Mengarah pada sebuah terobosan untuk merombak mental sekaligus memberantas dan memberangus segala mentalitas yang buruk menggantinya dengan sikap, sifat dan perilaku yang positif.

Istilah “revolusi” pada revolusi mental tentu saja tak bisa diasosiasikan maknanya dengan istilah revolusi fisik yang berdarah-darah.

Revolusi mental adalah revolusi moral yang tidak memerlukan pertumpahan darah.

Istilah revolusi dalam revolusi mental lebih tepat dimaknai sebagai sebuah usaha yang cepat dan radikal untuk merombak mentalitet manusia Indonesia.

Revolusi mental adalah upaya melakukan perubahan moral.

Dalam melaksanakan revolusi mental ini dapat berpijak melalui konsep Tri Sakti yang pernah diutarakan oleh Soekarno yang berjejak dalam tiga pilar.

Yaitu berdaulat politik, berdaulat ekonomi dan berdaulat sosial budaya (Supeli, 2014).

Berdaulat politik mengarah pada perubahan paradigma mengenai politik, menuju pada sistem politik yang bersih dan membangun birokrasi yang kompeten dan terpercaya.

Berdaulat ekonomi berorientasi pada kedaulatan dan ketahanan pangan, ketahanan energi serta investasi dan keleluasaan lapangan kerja.

Sedangkan kedaulatan sosial budaya berorientasi pada penguatan kepribadian Indonesia, perubahan paradigma, pengokohan nilai-nilai identitas Indonesia dan membangun pendidikan karakter.

Dengan berpijak pada konsep Tri Sakti, muara revolusi mental adalah perubahan cara bcrpikir, cara berperilaku dalam politik, perilaku ekonomi, perilaku pendidikan, dan perilaku dalam tindak sosial kemasyarakatan.

Karena merupakan perubahan moral, maka menurut hemat saya revolusi mental justru harus dimulai dari pilar ketiga.

Yaitu berdaulat sccara sosial budaya dengan orientasi pada perubahan paradigma, penguatan nilai-nilai dan pembangunan pendidikan karakter.

Pilar ketiga (juga kedua pilar lain) hanya bisa dilakukan melalui pendidikan. Dengan kata lain pendidikan – lah pintu gerbang bagi pelaksanaan revolusi mental.

Pendidikan sebagai proses belajar menjadi manusia berkebudayaan memiliki orientasi ganda (Latif, 2014).

Yakni memahami dirinya sendiri dan memahami lingkungannya.

Pendidikan memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan potensi pikir dan nilai yang ada dalam dirinya.

Melalui pendidikanlah dikembangkan sistem nilai, sistem pengetahuan, sistem berpikir, sistem berperilaku,yang pada gilirannya akan membentuk karakter dalam diri peserta didik.

Pendidikan formal atau pendidikan sekolah merupakan pintu gerbang revolusi penting untuk memulai revolusi mental (di samping pendidikan keluarga dan pcndidikan masyarakat; yang oleh Ki Hadjar Dewantara diistilahkan sebagai Tri Purasa).

Revolusi mental dapat dimasukkan dalam strategi pendidikan nasional tanpa harus membongkar seluruh sistem pendidikan yang ada.

Harus dikuatkan kembali proses pedagogis yang bertumpu pada pendidikan filsafat, pendidikan logika, pendidikan etis dan pcndidikan estetika.

Pendidikan filsafat perlu dikembangkan di sekolah menengah dengan bentuk yang sesederhana mungkin untuk menumbuhkan sikap dan perilaku kritis dengan berpijak pada nilai-nilai filosofis Indonesia.

Pendidikan logika harus dikuatkan untuk menumbuhkan sikap analitik dan mengikis sikap apatis, klenik dan membuang mental irasional.

Pendidikan etis diperlukan untuk mengukuhkan nilai-nilai, moral dan keperibadian Indonesia.

Menumbuhkan semangat toleransi, penghargaan, sportivitas, kesetaraan, dan kesadaran multikultural.

Adapun pendidikan estetis diperlukan untuk menumbuhkan kepekaan, simpati, empati dan apresiasi yang pada gilirannya akan menumbuhkan budi pekerti yang positif.

Agar pelaksanaan revolusi mental dapat berjalan maka menjadi penting untuk kembali melakukan tindakan korektif dalam konsep pendidikan kita, menimbang ulang strategi pendidikan yang berjejak pada nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Sistem kurikulum nasional (kurikulum 2013) harus segera dievaluasi dan dikritisi untuk mendapatkan formula yang tepat sehingga

pendidikan mampu menjadi tenaga penggerak dan akselarator selain pintu gerbang revolusi mental yang berjejak pada kepribadian bangsa.

Penulis : Tjahjono Widarmanto
Sumber: Majalah Media Pendidikkan jati, edisi April 2015

Tinggalkan Balasan