Longsor Gowa, Kesaksian Korban Selamat di Pallantikan, Manuju

0
52
Kesaksian Korban Selamat Longsor di Pallantikan, Manuju, Gowa
Rezky Dagriani (diboceng) rela berjalan kaki dari Desa Mangempang agar bisa menembus Desa Pattalikang. Menembus hutan dan hamparan sawah demi bertemu petugas, Jumat, 25 Januari.

Kesaksian Korban Selamat Longsor Gowa di Pallantikan, Manuju. 

Longsor Gowa – Berulang Kali Terjatuh Menembus Tempat Aman

Wajah Rezky Dagriani (24) tampak pucat. Ia terlihat mengalami trauma yang mendalam usai

selamat dari bencana longsor, yang nyaris merenggut nyawanya, di Desa Pallantikan, Manuju, Gowa.

Beruntung, sore itu Selasa, 25 Januari, saat ia berada di Desa tersebut, ia bisa berlari sekuat tenaga.

Menghindar dari reruntuhan longsor yang berada tepat di atas kepalanya.

Diakuinya, andaikan hari itu memang adalah ajalnya. Tak apa. Ia sudah pasrah.

Sebab, material longsor hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berada.

Apalagi, ia nyaris tertimbung longsor dua hingga tiga kali saat berusaha berlari menjauh.

Rezky mengatakan, tragedi yang sulit ia lupakan ini awalnya diduga hanyalah suara guntur semata.

Sebab, saat hendak melintas di jalan desa tersebut, memang sedang hujan.

Namun, saat menoleh ke atas bukit yang pas terletak di atas kepalanya, ada rumah yang ia

lihat sedang bergoyang dan saat itulah ia baru sadar, ada longsor yang mengancam nyawanya. Ia pun berlari kencang.

“Dengan mata kepala saya bahkan melihat sebuah rumah tergulung tanah. Beberapa orang

lari berhamburan,” ucapnya bidan yang sehari-hari bekerja di Puskesmas Sapaya itu pun berusaha lari.

Terus berlari, ia tak terasa tiba dihamparan sawah.

Rezky pun mengaku, ada beberapa orang pengungsi yang bisa ia temui. Ia ikut berbaur. eski tak seorang pun dikenal.

“Saya beristirahat sejenak di rumah sawah. Kira-kira jam 05.00 sore saat itu.

Di situ ada balita dua orang, anak-anak lima enam orang, dan kakek nenek,” ucapnya.

Rezky mengaku, tak bisa menetap dan bermalam di rumah sawah itu. Tak ada jaringan telepon, tak ada listrik.

Tak ada kawan. Semuanya padam.

Karenanya, terlintas dipikirannya mencari tempat yang lebih aman. Apalagi, tak ada seorang pun ia kenal.

Akhirnya, Rezky mendengar coloteh seorang pria paruh bayah kepada istrinya untuk nekat berpindah tempat.

Sebab dinilainya, rumah sawah itu memang tak memungkinkan untuk tetap bertahan.

Material lonsor masih bisa terlihat.

“Apalagi, pas dibelakang rumah sawah itu ada sungai. Katanya kalau tersapu, kita bisa sampai di Bilibili,” pilunya.

Tanpa pikir panjang, Rezky pun nekat mengikuti pria baruh baya bersama istri dan kedua anaknya itu. Dalam perjalanan, ia tertatih-tatih.

Lututnya sudah sangat ngilu. Kakinya, sudah mulai tak terasa. Dinginnya malam sudah menusuk tulang.

“Melalui pematang sawah saya berulang kali terjatuh. Saya sempat putus asa untuk bisa sampai ketempat aman,” kenangnya.

Beruntung, kata Risky, bapak pria paruh baya itu mau menolongnya.

Ia memberikan semangat hidup agar terus berjalan menjauh dari titik longsor agar bisa

sampai di Desa Mangempang yang berkilo-kilo jauhnya.

“Kalau tak salah namanya Daeng Siala. Dialah yang menolong saya hingga bisa sampai di Desa Mangempang.

Menembus Desa Tetebatu. Melalui Pematang sawah juga hutan. Saya sudah tak tahu arahnya. Saya percaya mereka,” kisahnya.

Sepanjang perjalanan, Rezky mengatakan, sedikitnya ada delapan titik longsor yang ia lalui.

Ada banyak material longsor bercampur kayu pohon tumbang menutupi jalan.

Ada banyak rumah tertimbun tanah.

“Saya sudah tak bisa lagi memperhatikan sekeliling saya. Saya hanya berusaha membawa tubuh ini agar tetap aman.

Sepatu, sudah saya buang. Sisa tas dipunggung. Menembus badai dan lumpur yang saya harus lalui setinggi pinggang saya,” akunya.

“Kaki ini sudah sangat pilu. Punggung ini sudah mulai tak mengangkat beban tubuhku. Saya nyaris putus asa,” tutupnya.

Perjalanan menembus lonsor di Gowa dan menantang maut, kata Rizky ini akan menjadi pengalaman hidup yang tak akan bisa ia lupakan.

Ada banyak hikmah yang bisa ia petik.

Namun, sedikitnya ia bisa sedikit bersyukur. Kini ia bisa berkumpul dengan keluarga besarnya di Makassar.

Namun ia ingin menutip pesan saat berusaha meninggalkan Desa Mangempang, ada banyak orang-orang yang harus ditolong di atas sana.

Tak hanya di Mangempang, di Pattalikang, maupun di Pattiro.

Tetapi ada juga di Buakkang. Desa yang hingga kemarin, belum tertutup akses jalan.

“Dari Mangempang saya berjalan kaki. Entah berapa kilo jauhnya. Mungkin lima enam jam berjalan kaki.

Hingga akhirnya saya bisa tiba di tempat evakuasi di Pattallikang dan berjumpa dengan tim evakuasi

dan bisa dibawa pulang ke Makassar. Longsor di Gowa ini sangat dahsyat,” tutupnya, sembari mengatakan, ia rindu ibunya. (*)

Tinggalkan Balasan