Tauhid, Arti dan Fungsinya Menurut Amien Rais

0
78
Arti dan Fungsi Tauhid
Amien Rais

Arti dan Fungsi Tauhid

Kedudukan Tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan paling esensial. Secara etimologis, Tauhid berarti mengesakan, yaitu mengesakan Tuhan Allah.

Formulasi yang paling pendek dari Tauhid itu adalah kalimah toyibah: La ilaaha illa Allah, yang berarti Tidak ada Tuhan selain Allah.

Dengan mengatakan ”Tidak ada Tuhan selain Allah”, seorang manusia Tauhid memutlakkan Allah Yang Maha Esa sebagai Kholiq atau maha pencipta dan menisbikan selainNya sebagai makhluk atau ciptaanNya.

Karena itu hubungan manusia dengan Allah tidak mempunyai tara dibandingkan dengan hubungannya dengan sesama makhluk.

Tauhid berarti komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus dari seluruh rasa hormat, rasa syukur dan sebagai satu-satunya sumber nilai.

Apa yang dikehendaki oleh Allah akan menjadi nilai (value) bagi manusia Tauhid dan ia tidak akan mau menerima otoritas dan petunjuk kecuali otoritas dan petunjuk Allah.

Komitmennya pada Tuhan adalah utuh, total, positif dan kokoh serta mencakup cinta dan pengabdian, ketaatan dan kepasrahan pada Tuhan dan kemauan keras untuk menjalankan kehendak-kehendakNya.

Kalimah toyibah ”La ilaaha illa Allah”, di atas meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan.

Dus, sesungguhnya kalimah toyibah merupakan kalimat pembebasan bagi manusia.

Seorang manusia Tauhid mempunyai tugas untuk melaksanakan ”tahriirun nas min ’ibadatil ’ibad ila ’ibadatillah”, yaitu membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata.

Dengan Tauhid manusia tidak akan saja bebas dan merdeka, akan tetapi manusia juga akan sadar bahwa berhadapan dengan manusia lain ia adalah sama.

Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior terhadap manusia lainnya.

Setiap manusia adalah hamba Allah dengan status yang sama.

Jika tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada manusia lainnya di hadapan Allah,

maka juga tidak ada kolcktivitas manusia baik sebagai suatu suku bangsa atau suatu bungsa yang lebih tinggi atau lebih rendah dari suku bangsa atau bangsa lainnya.

Semuanya berkedudukan sama di hadapan Allah.

Yang membedakan satu dengan Iainnya hanyalah tingkat ketaqwaan pada Allah SWT (Q 49 : l3).

Sekali seorang manusia atau suatu bangsa merasa bahwa dirinya lebih inferior dari seorang manusia atau suatu bangsa lainnya,

maka ia akan kehilangan kebebasan dan jatuh ke dalam perbudakan mental.

Mengakui superioritas sekelompok manusia tertentu, entah berdasarkan kekuasaan, warna kulit ataupun atas dasar apa saja,

secara otomatis akan berarti kehilangan kebebasan dan sekaligus meremehkan makna Tauhid. Juga dalam masalah-masalah agama.

Islam tidak mengakui setiap lembaga yang menyerupai lembaga kependetaan (priesthood, rabbihood) berhubung Tuhan tidak pernah mempercayakan suatu perwalian untuk mewakiliNya di muka bumi ini.

Seperti kata Nabi Muhammad SAW :

”La ruhbaaniyyata fil Islam” (Tidak ada sistem kependetaan di dalam Islam).

Dengan perkataan lain, sekali seorang manusia merasa lebih rendah ataupun lebih tinggi daripada manusia lainnya, ia telah jatuh ke dalam syirk, lawan dari Tauhid.

Al-Qur’an menghasung manusia untuk selalu mencari kebenaran dan menganjurkan manusia agar selalu menanyakan ”kebenaran yang sudah diterima dari nenek moyangnya (Q 2 : 170),

selalu terbuka terhadap koreksi atau keyakinan yang keliru (Q: 43: 22-24) dan senantiasa menguji apa yang sudah dianggap sebagai suatu kebenaran (Q 7: 28-29).

Di samping banyak manusia cenderung untuk mengikuti tradisi dan keyakinan dari nenek moyangnya,

mereka juga cenderung untuk mengikuti langkah para pemimpin tanpa menggunakan aka] sehat mereka.

Para penguasa atau para pemimpin sering memiliki otoritas yang tidak bisa ditantang (unchallenged authority),

oleh karena banyak manusia yang begitu saja menyerah dan tunduk kepada mereka tanpa daya pikir kritis dan keberanian untuk mengkritik.

Padahal para pemimpin atau penguasa pada umumnya mempunyai vested interest untuk membela status quo dan mengelabui para pengikutnya.

Al Qur’an mengingatkannya bahwa mereka yang tidak bersifat kritis kepada para pemimpin akan kecewa di hari akhir dan mengeluh :

” ………. Ya Tuhan kami! Kami telah taat kepada para pemimpin dan orang-orang besar kami, lalu mereka sesatkan kami dari jalanmu yang lurus”. (Q : 33 : 67).

Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada sesama makhluk,

kalimah toyibah juga mengajarkan emansipasi manusia dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan dan kesenangan-kesenangan sensual belaka.

Suatu kehidupan yang didekadensikan pada kelezatan sensual, kekuasaan dan penumpukan kekayaan pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran jernih.

Terhadap mereka yang seperti ini Al-Qur’an menyindir dengan tajam:

”Tidakkah engkau lihat manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?

Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya?

Apakah engkau sangka kebanyakan dari mereka mendengar atau menggunakan akalnya?

Hanyalah mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalan”, (Q 25 : 43-44).

Sementara itu kita melihat bahwa Islam sering dipeluk Oleh suatu masyarakat yang masih belum faham arti Tauhid,

sehingga masyarakat itu sesungguhnya masih belum bebas dan belum menyadari status manusiawinya.

Di sinilah sebenarnya letak kemandegan kebanyakan masyarakat Muslim dewasa ini.

Kita bisa mengatakan bahwa keterbelakangan ekonomi, stagnasi intelektual, degenerasi sosial dan berbagai macam

kejumudan lainnya yang diderita oleh masyarakat Muslim sesungguhnya berakar pada kemerosotan Tauhid.

Oleh karena itu untuk melakukan restorasi dan rekonstruksi manusia Muslim, baik secara individual maupun kolektif,

Tauhid adalah masalah pertama dan terpenting untuk segcra dipersegar dan diluruskan.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa anjuran sekularisasi misalnya, untuk memperbaharui pemahaman Islam adalah suatu ajakan

yang tidak mempunyai dasar di dalam Islam dan akan membuat kemerosotan sosial umat menjadi lebih parah.

Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa komitmen manusia Tauhid tidak saja terbatas pada hubungan vertikalnya dengan Tuhan,

akan tetapi ia mempunyai hubungan horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk yang harus sesuai dengan kehendak-kehendak Allah.

Kehendak Allah ini memberikan visi pada manusia Tauhid untuk membentuk suatu masyarakat yang mengejar nilai-nilai utama dan mengusahakan tegaknya keadilan sosial.

Visi ini pada gilirannya memberikan inspirasi pada manusia Tauhid untuk mengubah dunia di sekelilingnya sesuai kehendak Allah.

Dan inilah missi manusia Tauhid atau manusia Muslim.

Missi ini menuntut serangkaian tindakan agar terwujud menjadi kenyataan dan missi ini adalah bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah.

Missi untuk mengubah dunia, menegakkan kebenaran dan keadilan, merealisasikan berbagai nilai utama dan memberantas kerusakan di muka bumi (fasad fil ard)

bukan sekedar suatu derivative akan tetapi merupakan bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah.

Gabungan dari manusia-manusia Tauhid inilah yang kemudian membentuk suatu umat.

Dengan menegakkan kebenaran dan keadilan (amar ma’ruf) dan memberantas kejahatan (nahyu munkar)

sebagai dua ciri utamanya umat Tauhid meletakkan sasaran dari gerakannya bukan pada bangsa tertentu atau kelompok masyarakat tertentu,

namun seluruh kemanusiaan itu sendiri, seperti difirmankan Allah:

”Engkau sekalian adalah umat terbaik yang telah dikeluarkan untuk seluruh manusia; engkau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dan engkau beriman kepada Allah”. (Q 3: 110)

Manusia Tauhid dan umat Tauhid mempunyai kewajiban untuk menegakkan suatu orde sosial yang adil dan etis.

Al Qur’an mengutuk dis ekuih’brium ekonomi dan ketidakadilan sosial dan menyuruh kita untuk menegakkan suatu tatanan sosial yang etis dan egalitarian.

Surat-surat dalam Al-Qm’an yang diturunkan kepada Nabi SAW sewaktu masih di Makkah telah mengecam keras dua macam masalah:

pertama, politeisme atau kemajemukan dewa-dewa yang simptomatis dari masyarakat yang terpecahpecah;

dan kedua, disparitas sosio-ekonomi yang bertengger pada terpecah belahnya masyarakat.

Kedua hal ini merupakan dua sisi dari mata uang yang sama.

Al-Qur’an bertubi-tubi mengecam disparitas ekonomi, justru karena masalah ini memang sangat sulit untuk dipecahkan (Q 107: 1-6 dan 104: 1-6)

Al-Qur’an jelas tidak melarang manusia untuk mengurnpulkan harta benda, akan tetapi penyalahgunaan kekayaan (the abuse of wealth) yang menyebabkan manusia buta terhadap nilai-nilai luhur memang dikecam keras oleh Al-Qur’an (Q 3:14; 10:23; 13:36; 43:35 dst).

ALQur‘an memegang prinsip ”distributive justice” atau keadilan distributif di mana tidak diperkenankan sekelompok masyarakat menjadi terlalu kaya dan kelompok lainnya menderita kemiskinan yang bertentangan dengan harkat manusia.

”Kekayaan tidak boleh berputar hanya dalam lingkaran orang-orang kayo”. (Q 59:7) merupakan suatu kebijaksanaan ekonomi dalam ajaran Islam.

Dengan demikian menjadi tanggung jawab manusia dan umat Tauhid untuk selalu bekerja keras dan mencari pemecahan-pememhan yang feasible untuk melaksanakan prinsip keadilan distributif di atas.

Namun tidak boleh kita lupakan bahwa keadilan sosio-ekonomi bukanlah tujuan akhir.

Keadilan sosio-ekonomi itu sendiri adalah jembatan untuk sesuatu tujuan yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan akhirat.

Dengan visinya, manusia dan umat Tauhid harus melihat konsekuensikonsekuensi tindakannya, baik itu di dalam bidang sosio-ekonomi,

politik, kebudayaan maupun bidang kehidupan lainnya dan mengarahkannya pada suatu tujuan yang menjadi daéar komitmennya pada Allah.

Ini semua tidak mungkin akan bisa dicapai kecuali dengan jihad dalam arti badzlul juhdi, ”total endeavor”,

ke arah total dari seluruh tenaga, daya, dana dan pikiran untuk mewujudkan ”kalimatullah i hiyal ’ulya”, yaitu terselenggaranya nilai-nilai yang diridhai oleh Allah SWT (Q 9:40).

Penulis : Dr M Amien Rais MA

Kedudukan Tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan paling esensial.

Secara etimologis, Tauhid berarti mengesakan, yaitu mengesakan Tuhan Allah.

Formulasi yang paling pendek dari Tauhid itu adalah kalimah toyibah: La ilaaha illa Allah, yang berarti Tidak ada Tuhan selain Allah.

Dengan mengatakan ”Tidak ada Tuhan selain Allah”, seorang manusia Tauhid memutlakkan Allah Yang Maha Esa sebagai Kholiq atau maha pencipta dan menisbikan selainNya sebagai makhluk atau ciptaanNya.

Karena itu hubungan manusia dengan Allah tidak mempunyai tara dibandingkan dengan hubungannya dengan sesama makhluk.

Tauhid berarti komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus dari seluruh rasa hormat, rasa syukur dan sebagai satu-satunya sumber nilai.

Apa yang dikehendaki oleh Allah akan menjadi nilai (value) bagi manusia Tauhid dan ia tidak akan mau menerima otoritas dan petunjuk kecuali otoritas dan petunjuk Allah.

Komitmennya pada Tuhan adalah utuh, total, positif dan kokoh serta mencakup cinta dan pengabdian, ketaatan dan kepasrahan pada Tuhan dan kemauan keras untuk menjalankan kehendak-kehendakNya.

Kalimah toyibah ”La ilaaha illa Allah”, di atas meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan.

Dus, sesungguhnya kalimah toyibah merupakan kalimat pembebasan bagi manusia.

Seorang manusia Tauhid mempunyai tugas untuk melaksanakan ”tahriirun nas min ’ibadatil ’ibad ila ’ibadatillah”, yaitu membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata.

Dengan Tauhid manusia tidak akan saja bebas dan merdeka, akan tetapi manusia juga akan sadar bahwa berhadapan dengan manusia lain ia adalah sama.

Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior terhadap manusia lainnya.

Setiap manusia adalah hamba Allah dengan status yang sama.

Jika tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada manusia lainnya di hadapan Allah,

maka juga tidak ada kolcktivitas manusia baik sebagai suatu suku bangsa atau suatu bungsa yang lebih tinggi atau lebih rendah dari suku bangsa atau bangsa lainnya.

Semuanya berkedudukan sama di hadapan Allah.

Yang membedakan satu dengan Iainnya hanyalah tingkat ketaqwaan pada Allah SWT (Q 49 : l3).

Sekali seorang manusia atau suatu bangsa merasa bahwa dirinya lebih inferior dari seorang manusia atau suatu bangsa lainnya,

maka ia akan kehilangan kebebasan dan jatuh ke dalam perbudakan mental.

Mengakui superioritas sekelompok manusia tertentu, entah berdasarkan kekuasaan, warna kulit ataupun atas dasar apa saja,

secara otomatis akan berarti kehilangan kebebasan dan sekaligus meremehkan makna Tauhid. Juga dalam masalah-masalah agama.

Islam tidak mengakui setiap lembaga yang menyerupai lembaga kependetaan (priesthood, rabbihood) berhubung Tuhan tidak pernah mempercayakan suatu perwalian untuk mewakiliNya di muka bumi ini.

Seperti kata Nabi Muhammad SAW :

”La ruhbaaniyyata fil Islam” (Tidak ada sistem kependetaan di dalam Islam).

Dengan perkataan lain, sekali seorang manusia merasa lebih rendah ataupun lebih tinggi daripada manusia lainnya, ia telah jatuh ke dalam syirk, lawan dari Tauhid.

Al-Qur’an menghasung manusia untuk selalu mencari kebenaran dan menganjurkan manusia agar selalu menanyakan ”kebenaran yang sudah diterima dari nenek moyangnya (Q 2 : 170),

selalu terbuka terhadap koreksi atau keyakinan yang keliru (Q: 43: 22-24) dan senantiasa menguji apa yang sudah dianggap sebagai suatu kebenaran (Q 7: 28-29).

Di samping banyak manusia cenderung untuk mengikuti tradisi dan keyakinan dari nenek moyangnya,

mereka juga cenderung untuk mengikuti langkah para pemimpin tanpa menggunakan aka] sehat mereka.

Para penguasa atau para pemimpin sering memiliki otoritas yang tidak bisa ditantang (unchallenged authority),

oleh karena banyak manusia yang begitu saja menyerah dan tunduk kepada mereka tanpa daya pikir kritis dan keberanian untuk mengkritik.

Padahal para pemimpin atau penguasa pada umumnya mempunyai vested interest untuk membela status quo dan mengelabui para pengikutnya.

Al Qur’an mengingatkannya bahwa mereka yang tidak bersifat kritis kepada para pemimpin akan kecewa di hari akhir dan mengeluh :

” ………. Ya Tuhan kami! Kami telah taat kepada para pemimpin dan orang-orang besar kami, lalu mereka sesatkan kami dari jalanmu yang lurus”. (Q : 33 : 67).

Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada sesama makhluk,

kalimah toyibah juga mengajarkan emansipasi manusia dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan dan kesenangan-kesenangan sensual belaka.

Suatu kehidupan yang didekadensikan pada kelezatan sensual, kekuasaan dan penumpukan kekayaan pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran jernih.

Terhadap mereka yang seperti ini Al-Qur’an menyindir dengan tajam:

”Tidakkah engkau lihat manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?

Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya?

Apakah engkau sangka kebanyakan dari mereka mendengar atau menggunakan akalnya?

Hanyalah mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalan”, (Q 25 : 43-44).

Sementara itu kita melihat bahwa Islam sering dipeluk Oleh suatu masyarakat yang masih belum faham arti Tauhid,

sehingga masyarakat itu sesungguhnya masih belum bebas dan belum menyadari status manusiawinya.

Di sinilah sebenarnya letak kemandegan kebanyakan masyarakat Muslim dewasa ini.

Kita bisa mengatakan bahwa keterbelakangan ekonomi, stagnasi intelektual, degenerasi sosial dan berbagai macam

kejumudan lainnya yang diderita oleh masyarakat Muslim sesungguhnya berakar pada kemerosotan Tauhid.

Oleh karena itu untuk melakukan restorasi dan rekonstruksi manusia Muslim, baik secara individual maupun kolektif,

Tauhid adalah masalah pertama dan terpenting untuk segcra dipersegar dan diluruskan.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa anjuran sekularisasi misalnya, untuk memperbaharui pemahaman Islam adalah suatu ajakan

yang tidak mempunyai dasar di dalam Islam dan akan membuat kemerosotan sosial umat menjadi lebih parah.

Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa komitmen manusia Tauhid tidak saja terbatas pada hubungan vertikalnya dengan Tuhan,

akan tetapi ia mempunyai hubungan horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk yang harus sesuai dengan kehendak-kehendak Allah.

Kehendak Allah ini memberikan visi pada manusia Tauhid untuk membentuk suatu masyarakat yang mengejar nilai-nilai utama dan mengusahakan tegaknya keadilan sosial.

Visi ini pada gilirannya memberikan inspirasi pada manusia Tauhid untuk mengubah dunia di sekelilingnya sesuai kehendak Allah.

Dan inilah missi manusia Tauhid atau manusia Muslim.

Missi ini menuntut serangkaian tindakan agar terwujud menjadi kenyataan dan missi ini adalah bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah.

Missi untuk mengubah dunia, menegakkan kebenaran dan keadilan, merealisasikan berbagai nilai utama dan memberantas kerusakan di muka bumi (fasad fil ard)

bukan sekedar suatu derivative akan tetapi merupakan bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah.

Gabungan dari manusia-manusia Tauhid inilah yang kemudian membentuk suatu umat.

Dengan menegakkan kebenaran dan keadilan (amar ma’ruf) dan memberantas kejahatan (nahyu munkar)

sebagai dua ciri utamanya umat Tauhid meletakkan sasaran dari gerakannya bukan pada bangsa tertentu atau kelompok masyarakat tertentu,

namun seluruh kemanusiaan itu sendiri, seperti difirmankan Allah:

”Engkau sekalian adalah umat terbaik yang telah dikeluarkan untuk seluruh manusia; engkau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dan engkau beriman kepada Allah”. (Q 3: 110)

Manusia Tauhid dan umat Tauhid mempunyai kewajiban untuk menegakkan suatu orde sosial yang adil dan etis.

Al Qur’an mengutuk dis ekuih’brium ekonomi dan ketidakadilan sosial dan menyuruh kita untuk menegakkan suatu tatanan sosial yang etis dan egalitarian.

Surat-surat dalam Al-Qm’an yang diturunkan kepada Nabi SAW sewaktu masih di Makkah telah mengecam keras dua macam masalah:

pertama, politeisme atau kemajemukan dewa-dewa yang simptomatis dari masyarakat yang terpecahpecah;

dan kedua, disparitas sosio-ekonomi yang bertengger pada terpecah belahnya masyarakat.

Kedua hal ini merupakan dua sisi dari mata uang yang sama.

Al-Qur’an bertubi-tubi mengecam disparitas ekonomi, justru karena masalah ini memang sangat sulit untuk dipecahkan (Q 107: 1-6 dan 104: 1-6)

Al-Qur’an jelas tidak melarang manusia untuk mengurnpulkan harta benda, akan tetapi penyalahgunaan kekayaan (the abuse of wealth) yang menyebabkan manusia buta terhadap nilai-nilai luhur memang dikecam keras oleh Al-Qur’an (Q 3:14; 10:23; 13:36; 43:35 dst).

ALQur‘an memegang prinsip ”distributive justice” atau keadilan distributif di mana tidak diperkenankan sekelompok masyarakat menjadi terlalu kaya dan kelompok lainnya menderita kemiskinan yang bertentangan dengan harkat manusia.

”Kekayaan tidak boleh berputar hanya dalam lingkaran orang-orang kayo”. (Q 59:7) merupakan suatu kebijaksanaan ekonomi dalam ajaran Islam.

Dengan demikian menjadi tanggung jawab manusia dan umat Tauhid untuk selalu bekerja keras dan mencari pemecahan-pememhan yang feasible untuk melaksanakan prinsip keadilan distributif di atas.

Namun tidak boleh kita lupakan bahwa keadilan sosio-ekonomi bukanlah tujuan akhir.

Keadilan sosio-ekonomi itu sendiri adalah jembatan untuk sesuatu tujuan yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan akhirat.

Dengan visinya, manusia dan umat Tauhid harus melihat konsekuensikonsekuensi tindakannya, baik itu di dalam bidang sosio-ekonomi,

politik, kebudayaan maupun bidang kehidupan lainnya dan mengarahkannya pada suatu tujuan yang menjadi daéar komitmennya pada Allah.

Ini semua tidak mungkin akan bisa dicapai kecuali dengan jihad dalam arti badzlul juhdi, ”total endeavor”,

ke arah total dari seluruh tenaga, daya, dana dan pikiran untuk mewujudkan ”kalimatullah i hiyal ’ulya”, yaitu terselenggaranya nilai-nilai yang diridhai oleh Allah SWT (Q 9:40).

Kedudukan Tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan paling esensial.

Secara etimologis, Tauhid berarti mengesakan, yaitu mengesakan Tuhan Allah.

Formulasi yang paling pendek dari Tauhid itu adalah kalimah toyibah: La ilaaha illa Allah, yang berarti Tidak ada Tuhan selain Allah.

Dengan mengatakan ”Tidak ada Tuhan selain Allah”, seorang manusia Tauhid memutlakkan Allah Yang Maha Esa sebagai Kholiq atau maha pencipta dan menisbikan selainNya sebagai makhluk atau ciptaanNya.

Karena itu hubungan manusia dengan Allah tidak mempunyai tara dibandingkan dengan hubungannya dengan sesama makhluk.

Tauhid berarti komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus dari seluruh rasa hormat, rasa syukur dan sebagai satu-satunya sumber nilai.

Apa yang dikehendaki oleh Allah akan menjadi nilai (value) bagi manusia Tauhid dan ia tidak akan mau menerima otoritas dan petunjuk kecuali otoritas dan petunjuk Allah.

Komitmennya pada Tuhan adalah utuh, total, positif dan kokoh serta mencakup cinta dan pengabdian, ketaatan dan kepasrahan pada Tuhan dan kemauan keras untuk menjalankan kehendak-kehendakNya.

Kalimah toyibah ”La ilaaha illa Allah”, di atas meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan.

Dus, sesungguhnya kalimah toyibah merupakan kalimat pembebasan bagi manusia.

Seorang manusia Tauhid mempunyai tugas untuk melaksanakan ”tahriirun nas min ’ibadatil ’ibad ila ’ibadatillah”, yaitu membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata.

Dengan Tauhid manusia tidak akan saja bebas dan merdeka, akan tetapi manusia juga akan sadar bahwa berhadapan dengan manusia lain ia adalah sama.

Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior terhadap manusia lainnya.

Setiap manusia adalah hamba Allah dengan status yang sama.

Jika tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada manusia lainnya di hadapan Allah,

maka juga tidak ada kolcktivitas manusia baik sebagai suatu suku bangsa atau suatu bungsa yang lebih tinggi atau lebih rendah dari suku bangsa atau bangsa lainnya.

Semuanya berkedudukan sama di hadapan Allah.

Yang membedakan satu dengan Iainnya hanyalah tingkat ketaqwaan pada Allah SWT (Q 49 : l3).

Sekali seorang manusia atau suatu bangsa merasa bahwa dirinya lebih inferior dari seorang manusia atau suatu bangsa lainnya,

maka ia akan kehilangan kebebasan dan jatuh ke dalam perbudakan mental.

Mengakui superioritas sekelompok manusia tertentu, entah berdasarkan kekuasaan, warna kulit ataupun atas dasar apa saja,

secara otomatis akan berarti kehilangan kebebasan dan sekaligus meremehkan makna Tauhid. Juga dalam masalah-masalah agama.

Islam tidak mengakui setiap lembaga yang menyerupai lembaga kependetaan (priesthood, rabbihood) berhubung Tuhan tidak pernah mempercayakan suatu perwalian untuk mewakiliNya di muka bumi ini.

Seperti kata Nabi Muhammad SAW :

”La ruhbaaniyyata fil Islam” (Tidak ada sistem kependetaan di dalam Islam).

Dengan perkataan lain, sekali seorang manusia merasa lebih rendah ataupun lebih tinggi daripada manusia lainnya, ia telah jatuh ke dalam syirk, lawan dari Tauhid.

Al-Qur’an menghasung manusia untuk selalu mencari kebenaran dan menganjurkan manusia agar selalu menanyakan ”kebenaran yang sudah diterima dari nenek moyangnya (Q 2 : 170),

selalu terbuka terhadap koreksi atau keyakinan yang keliru (Q: 43: 22-24) dan senantiasa menguji apa yang sudah dianggap sebagai suatu kebenaran (Q 7: 28-29).

Di samping banyak manusia cenderung untuk mengikuti tradisi dan keyakinan dari nenek moyangnya,

mereka juga cenderung untuk mengikuti langkah para pemimpin tanpa menggunakan aka] sehat mereka.

Para penguasa atau para pemimpin sering memiliki otoritas yang tidak bisa ditantang (unchallenged authority),

oleh karena banyak manusia yang begitu saja menyerah dan tunduk kepada mereka tanpa daya pikir kritis dan keberanian untuk mengkritik.

Padahal para pemimpin atau penguasa pada umumnya mempunyai vested interest untuk membela status quo dan mengelabui para pengikutnya.

Al Qur’an mengingatkannya bahwa mereka yang tidak bersifat kritis kepada para pemimpin akan kecewa di hari akhir dan mengeluh :

” ………. Ya Tuhan kami! Kami telah taat kepada para pemimpin dan orang-orang besar kami, lalu mereka sesatkan kami dari jalanmu yang lurus”. (Q : 33 : 67).

Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada sesama makhluk,

kalimah toyibah juga mengajarkan emansipasi manusia dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan dan kesenangan-kesenangan sensual belaka.

Suatu kehidupan yang didekadensikan pada kelezatan sensual, kekuasaan dan penumpukan kekayaan pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran jernih.

Terhadap mereka yang seperti ini Al-Qur’an menyindir dengan tajam:

”Tidakkah engkau lihat manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?

Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya?

Apakah engkau sangka kebanyakan dari mereka mendengar atau menggunakan akalnya?

Hanyalah mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalan”, (Q 25 : 43-44).

Sementara itu kita melihat bahwa Islam sering dipeluk Oleh suatu masyarakat yang masih belum faham arti Tauhid,

sehingga masyarakat itu sesungguhnya masih belum bebas dan belum menyadari status manusiawinya.

Di sinilah sebenarnya letak kemandegan kebanyakan masyarakat Muslim dewasa ini.

Kita bisa mengatakan bahwa keterbelakangan ekonomi, stagnasi intelektual, degenerasi sosial dan berbagai macam

kejumudan lainnya yang diderita oleh masyarakat Muslim sesungguhnya berakar pada kemerosotan Tauhid.

Oleh karena itu untuk melakukan restorasi dan rekonstruksi manusia Muslim, baik secara individual maupun kolektif,

Tauhid adalah masalah pertama dan terpenting untuk segcra dipersegar dan diluruskan.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa anjuran sekularisasi misalnya, untuk memperbaharui pemahaman Islam adalah suatu ajakan

yang tidak mempunyai dasar di dalam Islam dan akan membuat kemerosotan sosial umat menjadi lebih parah.

Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa komitmen manusia Tauhid tidak saja terbatas pada hubungan vertikalnya dengan Tuhan,

akan tetapi ia mempunyai hubungan horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk yang harus sesuai dengan kehendak-kehendak Allah.

Kehendak Allah ini memberikan visi pada manusia Tauhid untuk membentuk suatu masyarakat yang mengejar nilai-nilai utama dan mengusahakan tegaknya keadilan sosial.

Visi ini pada gilirannya memberikan inspirasi pada manusia Tauhid untuk mengubah dunia di sekelilingnya sesuai kehendak Allah.

Dan inilah missi manusia Tauhid atau manusia Muslim.

Missi ini menuntut serangkaian tindakan agar terwujud menjadi kenyataan dan missi ini adalah bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah.

Missi untuk mengubah dunia, menegakkan kebenaran dan keadilan, merealisasikan berbagai nilai utama dan memberantas kerusakan di muka bumi (fasad fil ard)

bukan sekedar suatu derivative akan tetapi merupakan bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah.

Gabungan dari manusia-manusia Tauhid inilah yang kemudian membentuk suatu umat.

Dengan menegakkan kebenaran dan keadilan (amar ma’ruf) dan memberantas kejahatan (nahyu munkar)

sebagai dua ciri utamanya umat Tauhid meletakkan sasaran dari gerakannya bukan pada bangsa tertentu atau kelompok masyarakat tertentu,

namun seluruh kemanusiaan itu sendiri, seperti difirmankan Allah:

”Engkau sekalian adalah umat terbaik yang telah dikeluarkan untuk seluruh manusia; engkau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dan engkau beriman kepada Allah”. (Q 3: 110)

Manusia Tauhid dan umat Tauhid mempunyai kewajiban untuk menegakkan suatu orde sosial yang adil dan etis.

Al Qur’an mengutuk dis ekuih’brium ekonomi dan ketidakadilan sosial dan menyuruh kita untuk menegakkan suatu tatanan sosial yang etis dan egalitarian.

Surat-surat dalam Al-Qm’an yang diturunkan kepada Nabi SAW sewaktu masih di Makkah telah mengecam keras dua macam masalah:

pertama, politeisme atau kemajemukan dewa-dewa yang simptomatis dari masyarakat yang terpecahpecah;

dan kedua, disparitas sosio-ekonomi yang bertengger pada terpecah belahnya masyarakat.

Kedua hal ini merupakan dua sisi dari mata uang yang sama.

Al-Qur’an bertubi-tubi mengecam disparitas ekonomi, justru karena masalah ini memang sangat sulit untuk dipecahkan (Q 107: 1-6 dan 104: 1-6)

Al-Qur’an jelas tidak melarang manusia untuk mengurnpulkan harta benda, akan tetapi penyalahgunaan kekayaan (the abuse of wealth)

yang menyebabkan manusia buta terhadap nilai-nilai luhur memang dikecam keras oleh Al-Qur’an (Q 3:14; 10:23; 13:36; 43:35 dst).

ALQur‘an memegang prinsip ”distributive justice” atau keadilan distributif di mana tidak diperkenankan sekelompok masyarakat menjadi terlalu kaya dan kelompok lainnya menderita kemiskinan yang bertentangan dengan harkat manusia.

”Kekayaan tidak boleh berputar hanya dalam lingkaran orang-orang kayo”. (Q 59:7) merupakan suatu kebijaksanaan ekonomi dalam ajaran Islam.

Dengan demikian menjadi tanggung jawab manusia dan umat Tauhid untuk selalu bekerja keras dan mencari pemecahan-pememhan yang feasible untuk melaksanakan prinsip keadilan distributif di atas.

Namun tidak boleh kita lupakan bahwa keadilan sosio-ekonomi bukanlah tujuan akhir.

Keadilan sosio-ekonomi itu sendiri adalah jembatan untuk sesuatu tujuan yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan akhirat.

Dengan visinya, manusia dan umat Tauhid harus melihat konsekuensikonsekuensi tindakannya, baik itu di dalam bidang sosio-ekonomi,

politik, kebudayaan maupun bidang kehidupan lainnya dan mengarahkannya pada suatu tujuan yang menjadi daéar komitmennya pada Allah.

Ini semua tidak mungkin akan bisa dicapai kecuali dengan jihad dalam arti badzlul juhdi, ”total endeavor”,

ke arah total dari seluruh tenaga, daya, dana dan pikiran untuk mewujudkan ”kalimatullah i hiyal ’ulya”, yaitu terselenggaranya nilai-nilai yang diridhai oleh Allah SWT (Q 9:40).

Penulis : Dr M Amien Rais MA

Artikel Arti dan Fungsi Tauhid ini disadur dari kumpulan tulisan berjudul Mengenal Cakrawala yang diterbitkan Shalahuddin Press pada 1985.

Tinggalkan Balasan