Hikmah di Balik Hari Jumat Terakhir Ramadhan, Dicanangkan Sebagai Hari Al-Quds

  • Whatsapp
Hikmah Hari al-Quds oleh Sabara Nuruddin
Sabara Nuruddin

Alkisah selama 40 hari Nabi Musa as meninggalkan kaumnya untuk bermunajat dan “beraudiensi” dengan Allah di puncak Bukit Tursina. Pada malam terakhir munajatnya, Musa as bertanya kepada Allah.

“Setelah ini di mana lagi aku dapat menjumpai Engkau?”. Allah pun menjawab, “kau dapat menemuiKu di tengah kaum dhuafa, kau dapat menjumpaiKu di tengah orang-orang yang hancur hatinya”.

“Fa aina tadzhabun”?, “hendak kemana kamu pergi?”, maka jawabannya, “sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.

Gerak “menuhan” adalah visi utama manusia dalam mengarungi hidupnya, gerak “menuhan” bukan pergi menjauh dari manusia, tapi gerak di tengah-tengah manusia untuk membumikan Nilai-NilaiNya.

BACA JUGA

Untuk apa Allah melalui Al-Qur’an menceritakan tentang Musa as dan Fir’aun?, secara tersirat ada perintah kepada kita untuk menjadi seperti Musa demi melawan Fir’aun di zaman kita.

Musa as adalah perlambang keadilan dan Fir’aun adalah simbol kezaliman, dengan demikian misi kita adalah menyerap nilai-nilai keadilan Musa as untuk melawan nilai-nilai despotik Fir’aun di zaman kita. Sebagaimana Musa yang diperintahkan untuk ”menuhan” di tengah kaum tertindas, demikian pula kita, jika ingin ”menuhan” sebagaimana “menuhannya” Musa as.

Tak Sekuat Musa

Mungkin kita tidak sekuat Musa as dalam melawan kezaliman di zamannya, tapi paling tidak perintah tegas tentang di mana kita harus berpihak ketika ada kezaliman. Kisah burung pipit yang berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as dapat kita jadikan pelajaran, seperti apa keberpihakan melawan kezaliman.

Dikisahkan ketika Nabi Ibrahim as dibakar oleh Namrud, ada seekor burung pipit kecil yang bolak-balik menngambil air dengan paruh kecilnya kemudian disemburkan ke api yang membakar Ibrahim as. 

Melihat hal tersebut, burung-burung lainnya bersorak kepada pipit itu, “bagaimana mungkin kau bisa memadamkan api yang membakar Ibrahim dengan setetes air di paruhmu yang kecil itu?”.

Dengan tegas pipit kecil itu menjawab, “aku sedih karena Ibrahim kekasih Allah tubuhnya dibakar, aku tahu air yang kubawa ini tidak mungkin memadamkan api Namrud yang membakar Ibrahim, tapi nanti ketika Allah bertanya, posisiku sudah jelas berphak kepada siapa”.

Mungkin kita bagai burung pipit yang kecil itu, daya kita begitu lemah bagai tetes air yang disemburkan dari paruh kecil yang tak mungkin memadamkan api kezaliman. Namun kita tidak boleh apatis dengan kelemahan kita, perjuangan burung pipit di atas menjadi ibrah bahwa penegasan posisi di mana kita berpihak adalah yang utama.

Gerak kita dalam ”menuhan” adalah urusan Allah yang akan menggenapkan keterbatasan dan kekurangan gerak kita, yang terpenting adalah ketulusan dan kesungguhan proses kita berpihak pada Nilai-Nilai Ilahi, yaitu keadilan.

Kita tak perlu menunggu sampai punya power untuk melawan, jangan sampai sikap apatis kita yang membuat kita akhirnya tercatat dalam barisan orang-orang yang mendukung kezaliman.

Tauhid sebagai dasar postulat iman meniscayakan proses pencerahan dan gerak pembebasan, yaitu pembebasan diri dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya dan berpihak pada perjuangan pembebasan dunia dari kegelapan berupa kezaliman.

Jika ada satu kelompok manusia atau bangsa yang tanahnya dirampas, negerinya dijajah, kehormatannya diinjak-injak, hidupnya ditindas oleh kelompok atau bangsa lain, maka tugas kita untuk bersuara menentang kezaliman tersebut.

Hari Al-Quds Untuk Palestina

Hari Jumat terakhir bulan Ramadhan dicanangkan sebagai Hari al-Quds, hari di mana kita bersuara mengingatkan kepada dunia akan kezaliman nyata yang telah puluhan tahun menimpa bangsa Palestina. Teriakan protes kita di Jumat terakhir adalah penegasan komitmen pada nilai-nilai luhur puasa yang membebaskan.

Semoga suara protes kita seidaknya tercatat seperti tetes air yang disemburkan burung pipit pada api yang membakar Ibrahim as. Jangan apatis meski daya kita lemah, jangan sampai semangat dan perjuangan kita kalah oleh burung pipit yang kecil dalam kisah Nabi Ibrahim as.

“Fa aina tadzhabun”?, “hendak kemana kamu pergi” setelah puasa?, maka jawabnya, pergi menuju jihad asghar menentang kezaliman. Puasa yang “menuhan” adalah puasa orang yang selalu bersuara menentang kezaliman, puasa yang sekadar menahan adalah puasa orang yang diam dan apatis menyaksikan penindasan.

#MerdekaPalestina
#MampusIsrahell

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *