Perempuan Mualaf Ini Rela Tinggal Digubuk daripada Diminta Kembali Pindah Agama

  • Whatsapp
Perempuan Mualaf di Parepare
Dok. Masmedia.xyz
Perempuan Mualaf dapat hadiah rumah
Santi tampak terharu sambil memegang erat plakat rumah gratis yang diterimanya dari Owner Perumahan D’Nailah, Bahri Bali, Jumat (8/5/2020). 

Perempuan Mualaf ini tetap kukuh pada pendiriannya daripada harus pindah agama nenek moyangnya.

Miris. Namun itulah kenyataannya. Bertahan dari yang diyakininya saat ini. Perempuan mualaf ini rela tinggal di gubuk orang lain.

Dia tak peduli apa pun kata keluarganya, karena sejak pindah keyakinan ia mengaku, memang sudah tak dianggap lagi sebagai keluarga. 

Hingga akhirnya, tak sedikit orang yang seyakinan dengannya menjadi luluh. Hingga akhirnya, kemarin, Jumat (8/5/2020), dia dihadiahi sebuah rumah dari seorang pengembang perumahan. Gratis.

Sembari menggendong buah hatinya yang kini lumpuh itu, mata Santi (41) tiba-tiba saja memerah. Air matanya menetes tak lagi bisa tertahan.

Santi sangat terharu. Dia tak lagi bisa berkata apa-apa karena sama sekali tak menyangka mendapatkan rumah gratis hari ini, Jumat, 8 Mei.

PEREMPUAN MUALAF ITU DITINGGAL SUAMI

Apalagi, pasca ditinggal mati sang suami sejak beberapa tahun lalu dia mengaku bingun harus tinggal di mana lagi. Untuk pulang ke rumah orang tuanya, sudah tak mungkin lagi.Keluarga besarnya, sudah tak terima dia lagi. Ini pasca 11 tahun yang lalu memilih hijrah memeluk agama Islam.

Pulang ke rumah suaminya, pun demikian. Tak mungkin. Terlalu jauh. Di pulau seberang sana. Santi memilih tak ingin menyebutkan di mana pulau itu.

“Saya sungguh sangat tidak percaya. Terima kasih ya Tuhan. Terima kasih pak atas rumahnya. Alhamdulillah. Hanya doa yang bisa saya balaskan,” kata Santi tersungut-sungut disela penyerahan rumah di kompleks Perumahan D’Nayla, saat dijumpai.

Kehidupan Santi, memang sungguh miris. Pasca ditinggal mati sang suami, dia harus berjuang keras untuk menghidupi kedua anaknya yang masih belia.

Dia harus bekerja serabutan di pasar dan diupah seadanya saja. Meski itu tak banyak, setidaknya bisa membelikan makanan untuk kedua buah hatinya itu. Kata Santi, tak apa kerja serabutan yang penting tidak meminta-minta.

TAK BISA BICARA

Saat ini, anak Santi, perempuan mualaf ini punya anak sulung yang sudah berusia sekitar 10 tahun, tetapi malang ia tak bisa berbuat apa-apa. Dia lumpuh dan tak fasih berbicara. Sedangkan, si bungsu saat ini masih berusia 5 tahun.Yang sempat dibawanya kemarin, saat penyerahan rumah hanya si-sulung. Si-bungsu, kebetulan si-bungsu ia titip ke temannya. Tak dibawa, sebab takut merepotkan.

“Saat ini saya numpang di perumaham PNS di Kelurahan Galung Maloang. Tak tahu, itu rumah siapa. Sudah lama tak difungsikan. Saya coba berlindung di situ bersama anak-anak,” ujarnya.

Berkat rumah tipe 60 dari Owner Perumahan D’Nailah, Bahri Bali ini, Santi kini sedikitnya bisa bernapas legah. Yah, setidaknya tidak was-was lagi tidur nyenyak di gubuk reyok itu.

Pasalnya, tempat tinggal sementara yang di kompleks PNS itu memang sudah tak layak huni. Sudah bolong sana sini. Belum lagi, sewaktu-waktu bisa digusur.

Beruntung, Bahri Bali yang tergabung dalam Asosiasi Pengembang dan Pemukiman Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (Apersi), bisa melihat kondisi Santi ini. Gubuk Santi itu.

Kata Bahri, dua bulan timnya survei si-Santi ini dan akhirnya tanpa ragu dia sepakat, Santi memang layak mendapatkan bantuan ini. Tanpa tedeng apa-apa.

“Saya juga sudah tanya sendiri kesejumlah orang yang memang kenal ini ibu (Santi). Pas lihat tempat tinggalnya kemarin. Betul-betul, saya dibuat sedih,” aku Bahri.

DAPAT HADIAH RUMAH

Adapun kemarin, penyerahan rumah gratis ini diserahkan langsung oleh Ketua Apersi Sulsel, Yasser Latief. Yaser berharap, Owner Perumahan D’Nayla, Bahri Bali, selalu mendapatkan rezeki yang berlimpah dari Allah SWT.
Pria yang akrab disapa YL ini menambahkan tahun ini Apersi Sulsel akan menyerahkan 6 unit rumah gratis. Diantaranya empat unit yang diserahkan oleh owner Graha D’Nailah Bahri Bali dari PT Cahaya Ilahi Barokah dan dua unit lainnya, ada di Gowa dan Jeneponto.

“Alhamdulillah tahun ini kita bisa serahkan empat unit rumah gratis kepada warga kurang mampu di sekitar wilayah kelurahan Galung Maloang ini. Makasih pak Bahri. Semoga sehat dan sukses selalu,” harapnya.

YL pun kemudian membeberkan, empat unit rumah yang diserahkan ini diantaranya diberikan kepada guru mengaji, tahfidz, seorang mualaf (Santi), dan imam masjid. (*)

Sumber : Pengalaman Pribadi (Suardi Manyipi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *