Betulkah Khadijah Bukan Janda?

  • Whatsapp
Khadijah bukan janda

Apakah Khadijah bukan janda ketika menikah dengan Rasulullah, Muhammad SAW? Ada yang bilang iya dan sebaliknya. Jadi, siapa yang bisa dipercaya?

Tak mungkin ada dua kebenaran. Harus ada satu diantaranya. Lantas siapa yang benar? Tentunya ini menarik untuk ditilik.

Khadijah menikah di usia 40 tahun?

Yah, tak sedikit orang meyakini, Khadijah menikah dengan Rasulullah SAW di usia 40 tahun. Selain itu, tak sedikit pula orang percaya dan yakin Khadijah itu seorang Janda.

Tetapi tunggu dulu. Pernyataan yang menyebutkan khadijah bukan janda ada juga. Begitu pula usia beliau yang 40 tahun itu.

BACA JUGA
Agama-menurut-ulama-syiah-agama-mitra

Penasaran? Kamu bisa mendapatkan jawabannya dalam buku berjudul Khadijah The Greatest Story of the First-Lady of Islam. Buku ini diterjemahkan dari buku berjudul KhadijatuI-Kubra ( The Wife of the Prophet Muhammed): A Short Story of Her Life, Karya Syed A. A. Razwy. 

Buku ini diterbitkan pada 1990 lalu oleh penerbit Tahrike Tersile Qur’an, Inc. New York. Lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Alawiyah Abdurrahman dan diterbitkan oleh Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika) pada Agustus 2007.

Membaca buku ini, ada banyak sisi menarik dan tak lazim yang disingkap. Bahkan, sangat jarang diketahui orang pada umumnya.

Apakah buku ini berbahaya? Tidak. Buku ini hadir, tentunya sebagai perbandingan semata. Untuk kemudian meyakininya, itu bergantung pada sejauh mana kita mempercayainya.

Sekarang kembali pada persoalan. Khadijah menikah dengan Rasulullah pada saat usianya 40 tahun? Benarkah demikian atau tidak. Betulkah Khadijah bukan janda?

Menurut Syed A. A. Razwy, sebenarnya untuk menganalisisnya tidaklah begitu sulit. Pertama, jika dikatakan, usia Khadijah menikah dengan Rasulullah di usia 40 tahun sebenarnya itu hanyalah perkiraan semata.

Kenapa perkiraan? Alasannya, sangatlah sederhana. Hingga saat ini para ahli sejarah tak ada satu pun yang mengetahui kapan Khadijah lahir. Jadi, itu hanya perkiraan semata.

Kalau dikatakan, Khadijah lebih tua dari Muhammad SAW itu benar. Tetapi, itu bukan berarti usia keduanya terpaut jauh. Terpaut hingga 15 tahun. Itu sangatlah berlebihan.

Dalil yang membantah Khadijah bukan janda

Dalil lainnya, karena pada zaman Khadijah hidup di tanah Arab Saudi. Kebudayaan sudah sangat berkembang untuk gadis Arab. Gadis ini pada umumnya menikah pada usia muda dan tak menunggu sampai 40 tahun.

Tak hanya itu. Hal yang sangat rasional lagi  adalah masa usia 40 tahun bagi seorang wanita untuk menikah itu adalah sudah monopause.

Sementara, Khadijah sendiri punya 6 orang anak pasca menikah dengan Rasulullah. Memang, jumlah anak ini ada lagi perbedaan mengenai berapa jumlah sebenarnya. Sebab, ada juga yang mengatakan hanya ada 3 orang.

Nah, apakah memungkinkan seorang wanita di usia 40 tahun ini masih produktif? Jawabannya, tentunya tergantung pada keyakinan dan pengetahuan masing-masing.

Persoalan berikutnya adalah, apakah Khadijah seorang janda. Lagi-lagi kita bisa mendapatkan jawaban ini dalam buku tersebut.

Jawaban pun sangat menohok dan cukup masuk akal. Pertama, Khadijah itu orang kaya. Cantik juga cerdas. Apakah, semudah itu ia ingin begitu saja menikah dengan siapa saja?

Terlebih, hingga saat ini tak ada bukti sejarah yang mengisahkan, siapa suami pertama Khadijah.

Kenapa Bisa Ada Perbedaan Sejarah mengenai kisah Khadijah, istri Muhammad SAW?

Pertanyaan ini tentunya sangat menarik untuk dikupas. Kemungkinan terbesar yang terjadi adalah adanya  memutar balikkan fakta. Menurut sejumlah riwayat, pasca wafatnya Rasulullah ada dua kubu yang saling klaim kekuasaan. Yaitu kaum Umayyah dan Abbasiyah.

Atas rasa ingin berkuasa inilah ada banyak kebencian kepada keluarga Rasulullah. Khususnya kepada keturunan atau siapa yang layak menggantikan Rasulullah SAW. Baik itu kepada Ali, Hasan, dan Husain.

Dulu bahkan hingga sekarang, semua orang meyakini bahwa berita bohong yang dibicarakan secara terus menerus, akhirnya akan dipercayai sebagai kebenaran. Namun, terlepas dari ini semua. Tentunya, kita kembali lagi kepada diri masing-masing yang mana akan kita yakini.

Kehadiran buku ini, satu sisi menambah wawasan kita. Hadirnya buku ini pula, menegaskan bahwa dalam sejarah ada pula sisi kepentingan. Mana kiranya akan dilanggengkan untuk generasi mendatang. Mana yang kiranya, harus dihapus dari peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *