Kisah Kehidupan Bocah Sidrap Jadi Tulang Punggung Keluarga, Miris!

0
18
Kisah kehidupan bocah Sidrap yang masih berusia 12 tahun

Kisah kehidupan Seorang bocah di Sidrap yang masih berusia 12 tahun menjadi tulang punggung bagi keluarganya di Desa Bapangi, Kecamatan Panca Lautang, Sidrap. Sungguh menyayat hati.

Dia adalah Aan Nur Pratama, anak satu-satunya dari pasangan Bakri dan Ani. Aan masih duduk di bangku kelas V di SDN 5 Wanio, Kecamatan Panca Lautang, Sidrap.

Sejak 5 tahun terakhir hingga saat ini, bocah tersebut sudah menjadi tulang punggung keluarganya dengan menjadi buruh batu bata. Kisahnya kehidupan-nya sungguh menyayat hati.

Dia menggantikan peran ayahnya yang lumpuh setelah mengalami kecelakaan kerja saat bekerja sebagai buruh batu bata di tempat Aan bekerja saat ini.

Aan tinggal bersama bapak, nenek dan nenek buyutnya yang sudah renta.Sedangkan ibunya Ani pergi meninggalkan mereka saat Aan masih berusia sekitar 7 tahun lalu.

Tak hanya berjuang mencari nafkah, Aan juga harus merawat ayahnya yang lumpuh, nenek buyut yang dipasung dalam rumah lantaran sudah renta, serta neneknya yang juga penyandang disabilitas.

Ayah Aan, Bakri mengaku sedih melihat putra semata wayangnya itu bekerja tanpa mengenal lelah untuk menghidupi keluarganya. Kisah kehidupan bocah-nya ini diakuinya sebenarnya pula membuatnya miris.

BACA JUGA :   Angin Kencang Rusak Sekolah di Sidrap

“Saya sangat sedih pak melihatnya yang bekerja mencari nafkah untuk kami. Dia anak berbakti dan tidak perna mengeluh,” ucapnya dengan nada sedih, Rabu, 26 Februari 2020.

Dirinya yang masih terbaring ditempat tidur kediamannya itu menceritakan pada April 2014 lalu telah menderita lumpuh akibat kecelakaan kerja.

“Yah, kira-kira 6 tahun lalu lamanya saya mengalami lumpuh,” ucapnya.

Saat itu, ditempat kerjanya dia mengangkat bata dan papan yang ditempati menginjak patah sehingga jatuh ke lubang lalu tertimpa batu bata.

“Sejak itu saya tidak bisa berjalan. Dokter bilang tulang belakang saya patah, tidak berapa lama istri meninggalkan saya bersama Aan,” kenang Bakri.

Diceritakannya, bahwa sepulang sekolah, Aan harus bergegas menuju ke tempatnya bekerja sebagai buruh batu bata yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumahnya dengan berjalan kaki.

Satu demi satu batu bata yang telah dicetak di tempatnya dibolak-balik agar cepat kering, pekerjaan ini telah dilakoninya sejak 5 tahun yang lalu.

Sementara, Aan mengaku tidak perna capek atau mengeluh dengan kondisinya saat ini. Ditempatnya bekerja, dia diberikan upa antara Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.

BACA JUGA :   Patut Dicontoh! Karang Taruna Sidrap Ini Rayakan Pergantian Tahun dengan Cara Pameran UMKM

“Saya selalu ingat bapak yang sedang terbaring sakit, saya mau cari uang untuk bapak, dan nenek, juga untuk beli obatnya. Saya harus berjuang kerjas untuk keperluan keluarga pak,” katanya polos.

Terpisah, Ancu pemilih usaha batu bata tempat Aan bekerja juga mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami bocah tersebut.

“Harusnya kan usia dia sekarang, dia belajar dan bermain. Saya salut, dia rajin dan pekerja keras, bahkan kalau saya panggil makan, selalu menolak, katanya mau makan sama ayahnya saja di rumah,” sebutnya.

Ancu pun berharap kehidupan Aan bisa mendapat perhatian dari semua pihak, agar bocah malang ini bisa menjalani hidup lebih baik.

Sementara, Kepala Desa Bapangi, Hj Rusna juga mengaku prihatin melihat kondisi keluarga Aan. “Selaku pemerintah, saya prihatin melihat kondisi keluarga mereka,” ucapnya.

Dia pun mengatakan, pihaknya rutin memberikan bantuan. “Kalau dulu ada namannya Raskin, itu selalu diberikan oleh pemerintah desa, sekarang berali lagi ke Program Kelurga Harapan (PKH) dia kita berikan lagi,” ucapnya.

BACA JUGA :   Basket Putra Putri SMAN 11 Makassar Tidak Jemawa

Sebagai wujud kepedulian, katanya pemerintah desa akan lebih memperhatikan kehidupan Aan yang menjadi tulang punggung keluarganya.

Senada juga diucapkan, Kepala SDN 5 Wanio, Hj Buakallah saat dihubungi terpisah. Dia mengaku, Aan merupakan anak yang rajin bersekolah.

“Anak ini rajin dan patuh. Dia siswa kelas V SD, dia tidak perna menyusahkan orang lain atau rekan-rekan sebayahnya,” ucapnya.

Hj Buakallah mengatakan, Aan salah satu siswa pada sekolah yang dipimpinnya itu menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). “Kalau nga salah, Aan terima PIP sebesar Rp450 ribu per tahap,” ucapnya.

Sebelumnya, Sekretaris Camat (Sekcam) Panca Lautang, H Ridwan Bahtiar menyempatkan diri untuk melihat kondisi keluarga Aan.

Dia berbincang-bincang dengan ayah Aan dan neneknya I Dengki. “Mereka terbaring sakit di rumah yang sederhana itu,” tuturnya.

Ridwan memberikan semangat kepada keluarga Aan untuk selalu tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT.

“Kami do’akan bisa sembuh dan insya Allah ini semua pasti ada hikmahnya,” tandasnya. (ira)

Itulah kisah kehidupan bocah Sidrap yang kini masih saja bisa kita jumpai di Sulsel. Kiranya butuh perhatian pemerintah.

Tinggalkan Balasan