Adat Istiadat Enrekang
Salah satu ritual dalam doa bersama setelah ziarah kubur di Enrekang.

Adat Istiadat Enrekang, Enrekang 2020, Ini yang Bakal Jadi Fokus Pemerintah

Adat istiadat Enrekang sangatlah banyak. Begitupula dengan makanan Enrekang. Kota berjuluk Massenrenpulu ini memang dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak kebudayaan.

Mengenai rumah adat Enrekang pun demikian. Sejarah Enrekang sangatlah panjang. Kebudayaan enrekang sangat kaya akan edukasi. Budaya Enrekang tak bisa dipandang sebelah mata.

Bahasa enrekang sebenarnya sangat banyak, hal ini dikarenakan ada beberapa suku di tempat ini. Mengenai wisata enrekang, pastinya tak kalah dengan wisata lainnya yang ada di Sulsel.

Read More: Domain Gratis, Domain Berbayar, Hingga Perbedaan Hosting dan Domain

Adat Istiadat Enrekang

Kaluppini adalah orang rutinitas yang menetap di daerah pegunungan, dengan pusat rutinitas ada di Kampung Kaluppini, Kecamatan Enrekang Sulsel. Daerah adatnya mencangkup lima kampung, adalah Kampung Kaluppini, Lembang, Tobalu, Rossoan, dan Tokkonan.

Komune rutinitas ini ada diantara dua komune rutinitas adalah Tondon dan Ranga. Kaluppini berada 10 Km dari ibu-kota kabupaten yang bisa dicapai pada tempo kira-kira 30 menit.

Orang rutinitas Kaluppini masih membela beragam ritus rutinitas dan keagamaan. Mereka mempunyai adat delapan tahunan yang dikatakan Pangewarang atau Maccera Manurung, sebagai ritus keagamaan dan rutinitas paling tinggi pada masyarakat ini.

Beraneka adat istiadat yang berkembang di Kaluppini sangatlah kental dengan nilai dan ikonIslam.

Bacaan-bacaan dalam ritus memadukan bacaan Al-Quran dengan bahasa lokal, begitu hal dengan simbolsimbol adatnya. Keyakinan akan pendahulu sangatlah kuat, termaksud masih dipercayainya kehadiran To Manurung jadi orang suci yang di turunkan dari langit.

Suatu kuburan tua yang tersimpan dalam suatu gua di tengahnya rimba yang dikatakan duni atau erung ialah satu diantaranya situs penting yang paling dikeramatkan, yang berisi kerangka atau tulang pendahulu turunan pertama dari To Manurung.

Read More: Cara Menjual Domain dan Situs Jual Beli Domain, Cara Jual hingga Lelang

Adat Istiadat Enrekang; Maccera Manurung

Adat istiadat Enrekang yang cukup terkenal adalah Maccera Manurung atau Maccera Manurung Kaluppini. Ini adalah adat istiadat atau sebuah rutinitas yang dijalankan oleh penduduk Enrekang, terutamanya di wilayah Kaluppini, Propinsi Sulawesi Selatan.

Maccera Manurung ini sebagai satu diantara ritus pengungkapan rasa sukur penduduk atas sukses pertanian. Adat istiadat Enrekang satu ini selalu dijaga kelestariannnya.

Rutinitas ini dirayakan bukan sekedar oleh penduduk Enrekang, namun juga penduduk dari wilayah lain di luar propinsi. Rutinitas ini cuman dijalankan tiap delapan tahun sekali serta terjadi waktu empat hari beruntun.

Upacara etika ini diketuai oleh tetua etika di tempat serta dikerjakan dengan tahapan-tahapan. Proses awalnya yakni menabuh gendang tadi malam bosan untuk menghidupkan tanah. Penduduk yakin bila tanah sebagai pokok dari semuanya jagat. Di hari Jumat, penduduk mengerjakan “mapanongo gandang” yang maknanya bawa “turun gendang”.

Gendang dikeluarkan dari mushola, dijemur sesaat di atas batu lantas digantung. Selaku tanda penetapan dimulai acara Maccera Manurung, gendang dipukul 1x.

Ritus sesudah itu salah satunya Liang Wae, Ma’peong, serta perhelatan pendabihan hewan yang dagingnya diolah bersama lalu dibagi-bagikan ke tiap penduduk yang datang untuk dikonsumsi bersama.

Ritus Pangewarang

Adat istiadat Enrekang yang juga tak kalah menariknya adalah Ritual Pangewarang. Ini adalah Ritual selanjutnya. adat istiadat Enrekang yang memiliki ritus delapan tahunan di Populasi Rutinitas Kaluppini, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Istilah pangewarang ini adalah bahasa lokal Kaluppini buat ritus maccera manurung, istilah yang sering dipakai di populasi rutinitas lain disekelilingnya.

Read More: Bukti Transfer, Cara Melihat Transfer BRI, BCA, Mandiri, dan BNI

Contohnya, di populasi rutinitas Matakali serta Pasang, yang terletak gak jauh dari lokasi Kaluppini. Ritus pangewarang ditunaikan tiap 8 tahun sekali pada tahun genap.

Dalam ritus adat setempat ini, ada tiga perihal yang di-cera2, adalah lolo ketahui (manusia), dalle (rezki), barangapa (harta benda, hewan-hewan serta yang lain) (Sakku, 67 tahun/To Makaka)

Bagian Ritus

Dalam adat istiadat Enrekang ini, Salah satu ritual dalam Ritus pangewarang punya bagian yang panjang, dimulai dari penyiapan satu tahun awal mulanya, sampai hari implementasi. Dimulai dari ritus Ma’pabangun Tana, Ma’jaga Bulang, Ma’peong di Bubun Nase, Massawa, tarian

Pajjaga, So’diang Gandang, Liang Wai’, Parallu Nyawa, Massiara Kuburu, Kumande Simaturu serta Sumajo.


ENREKANG – Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Enrekang terus dikebut. Khususnya pada 2020 mendatang banyak fasilitas publik yang akan dibangun.

Salah satunya pembangunan lapangan sepak bola Abu Bakar Lambogo dan pembangun alun-alun di lapangan Baraka dan Alla, serta pembangunan jalan lainnya.

Serta yang paling prioritas yaitu pembagunan destinasi wisata unggulan, di kampung Swis Kelurahan Jupaddang yang ditarget sudah bisa dinikmati pada 2020 mendatang.

Bupati Enrekang, Muslimin Bando membeberkan, terkhusus untuk pembangunan Lapangan Abu Bakar Lambogo sejauh ini sudah dianggarkan sebanyak Rp6 miliar. Pembangunannya akan dimulai 2020.

“Insya Allah, akan ada pula alun-alun di lapangan ini. Mohon dukungan warga Enrekang,” harapnya, Selasa, 24 Desember.

Program tersebut merupakan langkah pelayanan pemerintah setempat dalam memberikan keindahan bagi masyarakatnya dan tempat untuk menyalurkan bakat generasi muda para pencinta sepak bola.

Untuk pembangun alun-alaun di lapangan Barka dan Alla sejatinya itu untuk 2021, tetapi sudah direncanakan 2020 ini.

Terkhusus di destinasi wisata unggulan di daerah Swiss Kelurahan Jupaddang, Kota Enrekang, Muslimin berharap bisa menambah PAD.

Wakil Bupati, Asman membeberkan, untuk pembangunan infrastruktur di kampung Swiss kedepannya juga dirancang lengkap dengan berbagai fasilitas. Seperti penginapan-penginapan dan rumah adat.

“Rencananya setiap suku di Indonesia dan kulinernya ada di sekitar rest area kampung Swiss ini,” ujarnya belum lama ini.

Asman pun berharap, program ini didukung oleh warga. Sebab, bisa menambah PAD daerah jika kunjungan terus berdatangan. Terutama bersama-sama menjaganya agar tetap indah dipandang mata. ()

Gambar Gravatar
https://www.youtube.com/user/addhymanyipi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *