Pelabuhan Pertama Parepare adalah Pelabuhan Baramming

  • Whatsapp

Sejak abad XV hingga abad XVI di Parepare sudah ada pelabuhan. 

Pelabuhan ini diyakini sebagai pelabuhan pertama di Ajatappareng. Namanya Pelabuhan Baramming. Pelabuhan ini, terbilang ramai di masanya. 

Berjaya dan redup seiring dengan runtuhnya Kerajaan Bacukiki. Yah, sekitar abad 1.500-1.600 Masehi.

Pedagang yang datang dan mengadakan transaksi di pelabuhan ini diyakini pula dari Negara Portugis juga Inggris. Pada abad ini pula mereka sudah lalu lalang.

Namun sayang, pelabuhan ini sudah tak ada lagi. Secara kasat mata sudah tak tampak lagi.

Namun, kata Minhajuddin, yang juga salah satu pegiat sejarah di Parepare mengatakan, jika betul mau ditelusuri sebenarnya masih ada tiang pengikat tali kapal di sekitar Palabuhan Baramming itu.

Pelabuhan pertama Parepare
Andi Sudirman Parenrengi memperlihatkan lokasi Pelabuhan Baramming di sekitar Sungai Salo Karajae di Kecamatan Bacukiki, Parepare belum lama ini.

Pernah Dilanda Banjir Besar 

Tetapi mantan anggota DPRD Parepare, itu tidak bisa memastikannya sekarang. Sebab, ia melihat tiang itu sejak lima tahun lalu.
Jauh sebelum banjir besar pernah terjadi sekitar tiga tahun silam di sekitar pelabuhan pertama tersebut.

“Pernah banjir di sana. Di Sungai Salokarajae itu. Kalau tak salah tiga atau empat tahun lalu,” bebernya, Minggu, 10 November.

Belum lama ini, penulis ditemani Andi Sudirman Parenrengi, seorang pegiat sejarah Parepare mencoba menelusuri jejak dimana letak Pelabuhan Baramming tersebut. Tak satu pun jejak yang bisa didapat.

Namun, jika jejak Kerajaan Bucikiki masih bisa dilihat. Ada empat batu besar dari bukti adanya kerajaan itu. Orang menamai batu purbakala itu sebagai Batu Makkiki’e atau Batu Meringkik. Sejarahnya cukup panjang apabila harus membahasnya. Butuh edisi tersendiri.

Sembari berjalan untuk menunjukkan letak pelabuhan pertama di Parepare, Sudirman mengisahkan, dulu sejak Pelabuhan Baramming beroperasi yang datang rata-rata orang Portugis dan Inggris. Katanya pedagang asing ini bahkan sudah lalu lalang setiap bulannya.

Mereka bahkan bisa datang dan pergi dalam sebulan empat hingga lima kali. Bahkan, jika cuaca bersahabat mereka bisa datang sepuluh kali dalam sebulan.

Tentu saja mereka datang untuk menukarkan barang dagangan mereka dengan penduduk setempat. Yaitu rakyat Kerajaan Bacukiki. “Barang dagangan yang mereka bawa itu berupa tembikar juga timah,” kata Sudirman.

Andi Sudirman Parenrengi memperlihatkan batu yang dinamai Batu Makkikie, di Parepare
Andi Sudirman Parenrengi memperlihatkan batu yang dinamai Batu Makkikie, di Parepare. 

Butuh Arkeolog 

Tembikar dan Timah ini mereka menukarnya dengan lada atau beras yang dimiliki warga. Kala itu masih system barter. 
Selain lada dan beras pedagang asing ini juga, kata Sudirman ada yang menukarnya dengan rempah-rempah lainnya yang tumbuh subur di Parepare dan sekitarnya. Seperti kopi dan sutera.

“Sebenarnya, kalau mau ditelusuri dimana letak pelabuhan pertama ini, memang kita masih butuh arkelog untuk membuktikannya. Namun, hampir semua orang yang ada di Parepare tahu letak pelabuhan pertama ini. Yah, di sepanjang Sungai Salo Karajae ini,” bebernya, sembari berdiri di atas tanah yang diyakini di sekitar sinilah tempat dimana letak Pelabuhan Baramming tersebut.

Sembari berdiri di pesisir Sungai Salo Karajae, pegiat perangko se-Indonesia itu mengatakan, jejak peninggalan adanya Pelabuhan Baramming juga bisa ditelusuri di balik gunung yang ada di depannya itu.

“Di depan saya ini, di gunung itu. Orang masih bisa mendapati beberapa perkakas kapal. Bahkan, katanya ada yang pernah dapat karang dan beberapa perlengkapan kapal,” ujarnya.

Andi Sudirman Parenrengi memperlihatkan batu yang dinamai Batu Makkikie, di Parepare
Andi Sudirman Parenrengi bersama penulis kala melihat langsung batu yang dinamai “Batu Makkikie”. 

Sudah Ada Pelabuhan Kecil 

Sebenarnya, kata Sudirman, pada masa kejayaan Pelabuhan Baramming juga sudah ada pelabuhan kecil yang letaknya di Kampung Nen’nee.

Pelabuhan itu hanya pelabuhan rakyat. Kecil. Namun, ada Belanda di situ. Bahkan, sebenarnya dibangun perdagangan Belanda.

“Singkat cerita Belanda masuk. VOC juga masuk. Perlahan pelabuhan ini menjadi ramai. Pelabuhan Baramming perlahan mulai ditinggalkan. Tetapi tidak serta merta ditinggalkan,” bebernya.

“Jadi prinsipnya pemerintahan VOC yg di parepare yg membuatnya. yang perlahan menggantikan peran dan fungsi pelabuhan Baramming,” sambungnya.

Kampung Nenne’e sendiri terletak di di Kecamatan Ujung. Pelabuhan ini terlebih dahulu ada sebelum adanya Pelabuhan Nusantara. Pelabuhan yang kini menjadi ikon Kota Parepare.

Tetapi, pelabuhan di kampung Nene ini tak lama berkembang. Masa itu Belanda sudah berkuasa. Kerajaan Gowa juga sudah masuk di Parepare. Dari sinilah berlahan pelabuhan dipindahkan ke Pelabuhan Nusantara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *