Museum Benda Pusaka Ini Tak Lagi Terawat, Apakah Mesti Dijual Saja?

  • Whatsapp
Museum La Bangenge yang terletak di Cappa Galung, Parepare
(Foto: Dok. Pribadi)

Museum La Bangenge yang terletak di Cappa Galung, Parepare kini tak terawat lagi. Kondisi bangunannya sudah rusak parah.

Salah satunya pada plafon ruang bagian belakang museum tersebut. Kini sudah bolong. Tripleksnya sudah hilang.
Beruntung plafon museum yang masih berbentuk model rumah zaman dulu itu di bagian depan juga tengah ruangan masih utuh. Tetapi, warnanya kini juga sudah pudar. 
Kondisi memprihatinkan ini belum pada benda koleksi museum tersebut. Tak sedikit, benda-benda pusaka juga benda peninggalan tempo dulu bertumpuk dimana-dimana. Beruntung, tak ada yang hilang juga rusak.
Museum La Bangenge yang terletak di Cappa Galung, Parepare
(Foto; Dok. Pribadi) 

Katakanlah, benda pusaka yang ada kini masih ada seperti senjata tajam zaman dulu, keramik antik, pakaian tradisional bugis arung bacukiki, lontar bugis, uang kuno, bahkan ada alquran tulisan tangan. Itu masih utuh. 

“Sebenarnya museum ini adalah milik Alm H Hamzah. Semasa hidup beliau kerja di BRI dan memang hobi mengeoleksi benda-benda pusaka,” kata Umar Usman (65), yang kini mengelola museum tersebut.

Lebih jauh Umar membeberkan, saat ini sebenarnya museum hanya dikelola olehnya yang memang masih keluarga dekat Almarhum H Hamzah.

“Museum La Bangenge ini berdiri sejak 1974. Saya di sini mengurusnya sejak tahun 80-an,” bebernya sembari mengatakan dia adalah menantu dari almarhum.

Museum La Bangenge yang terletak di Cappa Galung, Parepare
(Dok. Pribadi) 
Umar pun membeberkan, sebenarnya pada 2018 lalu ada bantuan dari dinas pendidikan dan kebudayaan Parepare. Nilainya sekitar Rp50 juta.
“Sebenarnya untuk mengelolanya kami butuh relawan. Sebab, kami kewelahan menatanya sendiri,” akunya.
Umar pun berharap, ada perhatian dari pemerintah museum ini. Terutama, ada tenaga honor untuk bantu memeliharanya.

“Tidak usah tiap hari, seminggu sekali juga tidak apa-apa,” tambahnya.

Awalnya, kata Umar, dulu museum ini untuk masuk tidak membebankan biaya ke pengunjung, tetapi sekarang kondisinya berbeda. Orang masuk harus bayar dulu.
“Saat ini sebenarnya ada ratusan lebih pengunjung. Tetapi saya tidak catat, karena tidak ada buku tamu. Dulu ada saya pernah buat. Sekarang tidak lagi,” sambungnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *